HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

24 Januari 2008

BI Minta Waspadai Ancaman Resesi AS 


Dampak ancaman resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) terhadap perekonomian glo-bal ditengarai masih terus berlangsung hingga beberapa bulan mendatang. Bank In-donesia (BI) pun mengingat-kan para pemangku kepenti-ngan agar tak menanggalkan kewaspadaan.
Hal tersebut dikemukakan Deputi Gubernur Senior BI, Miranda Swaray Goeltom di sela peluncuran buku terba-runya ‘Essays In Macroecono-mic Policy: The Indonesian Experience’ di Jakarta, Rabu (23/01).
Ia menuturkan, kejatuhan pasar sekuritisasi kredit sub-prime perumahan AS sejak pertengahan lalu membawa implikasi dalam jangka waktu yang tak sebentar. Tak sedikit bank-bank besar mau pun lembaga jasa keuangan lain skala dunia yang satu demi satu akhirnya mengalami kekurangan likuiditas dan harus mencari pinjaman.
“Dan jangan lupa, belum semua lembaga keuangan itu mengeluarkan laporan tahu-nan mereka. Jadi ada ke-mungkinan kita melihat tur-bulences seperti beberapa hari ini,” ujarnya seperti dikutip mediaindo.co.id. 
Sebagai negara dengan sistem perekonomian terbuka, Miranda menilai dampak dari gejolak ekonomi AS mau tak mau akan terasa di Indonesia. Namun yang terpenting, ucapnya, adalah bagaimana dampak tersebut dapat diperkecil.
“Saya senang presiden dan para menteri-menteri lang-sung alert dan terus meng-ambil tindakan agar dampak negatifnya bisa diperkecil,” kata dia.
Lebih lanjut, Miranda meng-ungkapkan bahwa cadangan devisa Indonesia berada da-lam posisi yang relatif kuat untuk mengantisipasi terjadi-nya gejolak pasar. Saat ini, ujarnya, cadangan devisa te-lah melampaui US$58 miliar. “Kita juga tidak usah khawatir kekuatan perbankan, karena industri perbankan kita cu-kup sehat,” imbuhnya.
Disinggung mengenai lang-kah penurunan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) sebesar 75 basis poin (bps) ke posisi 3,25 persen, ia menilai langkah itu akan membantu memini-malkan perlambatan ekonomi AS. “Harus kita akui bahwa saling berjatuhannya satu per satu institusi finansial dunia yang begitu besar menim-bulkan kegalauan pada semua pemain, terutama di pasar uang. Tetapi layaknya seperti pasar uang dia cepat datang dan cepat pergi,” tuturnya.
Gubernur BI Burhanuddin Abdullah menambahkan, pi-haknya optimistis bahwa pa-sar saham dalam negeri akan kembali rebound. “Semuanya akan makin kalem sekarang karena mereka cuma meng-harapkan soft landing. Saya kira itu sesuatu yang sama dengan yang saya harapkan,” kata Burhanuddin.
Dalam kesempatan serupa, Deputi Gubernur BI Budi Mulya mengatakan, langkah The Fed tersebut berdampak positif terhadap seluruh emer-ging market, yang tercermin dari menguatnya mata uang dan bursa saham regional. Ia berharap, pergerakan positif yang diperlihatkan pasar saham dan valas tersebut terus bergulir ke depan.
“BI akan tetap senantiasa di pasar, karena yang terjadi sekarang ini hit-nya ke pasar saham dan itu terkait dengan nilai tukar. Kondisi pasar sa-ham terjadi karena investor mereposisi asetnya akibat perkembangan keuangan yang tidak menentu di pasar global,” jelasnya. Ia juga me-nambahkan, gejolak pasar modal dua-tiga hari belaka-ngan tidak terlalu mempenga-ruhi penempatan dana asing di sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau Surat Utang Negara (SUN). “Ada penurunan di SBI, tapi tidak signifikan. Mungkin sekitar US$100 juta sampai US$200 juta. Di SUN juga sama,” cetusnya.
Berdasarkan data BI, jumlah SBI milik investor asing per 22 Januari turun menjadi Rp 26,388 triliun dari posisi sehari sebelumnya di Rp 28,132 tri-liun. Sedangkan porsi investor asing di SUN per 22 Januari ada-lah Rp 78,863 triliun dari sebe-lumnya Rp 78,719 triliun.(mdc)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin