CLOSE PAGE : PRINT NEWS

 

 

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Minut
Minahasa Selatan
Minahasa Tenggara
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

 
Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)
 

  

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

24 Januari 2008

Pengendalian Eceng Gondok 

 IKUTI BERITA LAIN

Pelaku Cyber Crime Terhadap Perbankan(2)
Oleh: Andries Latjandu SH
b. Pembobolan Bank

SURAT PEMBACA

Harga Cengkih Kembali Turun, Petani Cengkih Was-was

 COMMENTAREN

Paket ‘Triple’ di Pilkada

 
Eceng gondok, Eichhornia crassipes (Martius), yang berasal dari Amazon, Brazil adalah tanaman air yang termasuk dalam famili Pontederiaceae dan merupakan tumbuhan gulma air yang sangat serius dan salah satu terburuk di dunia karena dapat berkembang dengan sangat cepat serta menyebar dengan cepat ke daerah-daerah yang baru. 
Tanaman ini dapat dengan mu-dah disebarkan oleh arus air, angin, perahu, net ikan, manu-sia dll. Tanaman ini pertama-tama menyebar ke Amerika Uta-ra pada sekitar tahun 1980-an pada saat orang-orang memba-wanya ke New Orleans sebagai tanaman ornamental. Tanaman ini dilaporkan masuk ke Mesir, Australia dan Asia Selatan pada tahun 1890-an kemudian ke Ci-na dan Pasifik pada awal tahun 1900-an dan selanjutnya ke Afri-ka Barat pada tahun 1930-an. Saat ini telah menyebar ke selu-ruh daerah tropis dan subtropis. Investasi terbesar dari eceng gondok berkembang di Amerika Serikat bagian Selatan, Mesiko, Panama, Afrika, India, Asia Teng-gara, INDONESIA, Australia dan daerah Pasifik. Dilaporkan bah-wa eceng gondok pertama-tama diimpor ke Indonesia sebagai ta-naman ornamental di Kebun Ra-ya Bogor pada tahun 1894.
Tanaman ini membentuk lapis-an kesetan yang sangat tebal dan menutupi permukaan air ter-utama pada danau alami dan buatan, irigasi, saluran mitigasi, dam dan tempat-tempat penam-pungan air lainnya. Adanya eceng gondok membatasi peng-gunaan sumber air oleh manu-sia, sumber tenaga listrik, navi-gasi, transpor melalui air, pe-ngailan, sanitasi dll. Kehadiran eceng gondok juga menjadi tem-pat-tempat pembiakan yang co-cok untuk perkembangan nya-muk sebagai vektor penyakit pa-da manusia dan hewan seperti malaria, encephalitis, schistoso-miasis, filariasis, dan penyakit-penyakit lainnya. Di tempat-tem-pat tertentu pembentukan lapis-an kesetan eceng gondok pada permukaan air menjadi habitat yang menarik bagi kehidupan ular-ular yang berbisa. Selain itu perkembangan lapisan atas oleh eceng gondok juga merubah komposisi fisik dan kimia air se-hingga dapat memperburuk kualitas air dan mempercepat terjadinya proses eutrofikasi. Eceng gondok memang dapat di-gunakan untuk pupuk, kompos, dan sumber energi (biofuel), pembuatan kertas, dan handi-craft namun program tersebut hanya memiliki potensi yang ter-batas.
Pengendalian Eceng Gon-dok Secara Hayati atau Biologis
Cara pengendalian yang umum dilakukan adalah mengeluarkan eceng gondok dari permukaan air dengan tangan atau secara mekanik. Biji-biji eceng gondok dapat bertahan hidup sampai 20 tahun. Keterbatasan cara pe-ngendalian fisik ialah memerlu-kan tenaga kerja yang banyak, mahal bila menggunakan mesin serta harus dilakukan berulang-ulang. Pengendalian cara kimia dalam banyak hal dapat merugi-kan karena adanya pencemaran pestisida dalam air yang sering menjadi sumber air minun, cuci pakaian, mandi dan pemelihara-an ikan. Pengendalian cara ki-mia juga harus dilakukan ber-ulang-ulang.
Cara pengendalian hayati me-rupakan satu-satunya cara yang dapat bersifat berkelanjutan (sustainable), tidak merusak ling-kungan, bersifat jangka panjang dan dapat mengendalikan ada-nya infestasi eceng gondok da-lam areal yang luas. Ada dua spesies kumbang moncong dari famili Curculionidae (Coleoptera) yang dapat secara efektif me-ngendalikan eceng gondok di la-pang yaitu Neochetina bruchi Hustache dan Neochetina eich-horniae Warner. Bentuk dewasa dari kedua jenis kumbang ini memakan daun dan tangkai daun sedangkan larvanya meng-gerek bagian tangkai daun dan mahkota bunga. Kumbang-kumbang ini hanya terbatas me-makan tanaman anggota famili Pontederiaceae. Salah satu hal yang sangat penting dalam meng-introduksi serangga yang digu-nakan untuk pengendalian ha-yati gulma ialah serangga terse-but harus bersifat sangat spesi-fik dan tidak memakan tanam-an penting yang bukan gulma. Neochetina telah terbukti hanya makan tanaman sejenis eceng gondok dan tidak makan tanam-an lain. Kedua jenis kumbang ini memakan daun sehingga da-un-daunan eceng gondok men-jadi kering dan dengan adanya ulat yang menggerek bagian tangkai daun maka lama kela-maan tanaman menjadi kering dan rapuh, menjadi lembut dan tenggelam ke dalam air. Lapisan tanaman berbentuk kesetan yang tebal di permukaan air la-ma kelamaan mulai terpisah-pi-sah. Kumbang pertama-tama menyerang tanaman yang masih muda dan mengkolonisasi ke-lompok-kelompok tanaman ter-sebut sehingga produksi bunga dan daun berkurang dan selan-jutnya pertumbuhan eceng gon-dok terhenti. Kecepatan dan efi-siensi pengendalian eceng gon-dok oleh kumbang ini akan ter-gantung pada jumlah kumbang yang dilepaskan dan penyeba-rannya di areal yang terinvestasi oleh eceng gondok.
Pelepasan N. bruchi dan N. eichhorniae untuk pengendalian eceng gondok telah dilakukan di lebih dari 30 negara termasuk di antaranya Amerika Serikat, Australia, Filipina, Malaysia, Thailand, India dan Indonesia (Jawa).
Selain kedua jenis kumbang tersebut di atas terdapat juga je-nis ngengat yaitu Niphograpta albigutallis Warren (Lepidoptera: Pyralidae) yang dikenal sebagai penggerek batang eceng gondok. Larva muda menggerek tangkai daun sedangkan larva dewasa menyerang dan berkembang pa-da bagian pucuk daun yang meng-akibatkan tanaman menjadi layu dan bewarna coklat kemu-dian mati. Kerusakan pada ba-gian pucuk tanaman mengaki-batkan terhentinya pertumbuh-an tanaman. Jenis ngengat ini telah diintroduksikan ke 13 ne-gara di antaranya Australia, Ma-laysia, Afrika Selatan, Thailand dan Amerika Serikat. 
Pengendalian secara hayati merupakan cara yang bersifat berkelanjutan, ramah lingkung-an dan dapat mengendalikan eceng gondok secara terus-me-nerus. Kelemahan cara pengen-dalian hayati ialah memakan waktu yang lebih lama diban-dingkan dengan cara pengenda-lian fisik atau kimia. Serangga membutuhkan waktu yang agak untuk mengendalikan gulma na-mun setelah agen hayati terse-but berkembang dan menetap di daerah yang terinvestasi eceng gondok maka pengendalian akan secara alami akan terjadi terus-menerus. 
Khusus untuk pengendalian hayati eceng gondok di danau Tondano dapat mengintroduksi-kan satu atau dua jenis kum-bang moncong seperti N. eich-horniae yang juga telah diguna-kan di Jawa sejak tahun 1979. 

Penulis ialah Guru Besar Entomologi/Biokontrol
Jurusan Hama dan Penyakit
Fakultas Pertanian Unsrat Manado
Sumber: 
1.Julien, M.H, M.W. Griffiths & A.D. Wright 1999). Biological Control of Water Hyacinth. ACIAR.
2.Julien, M.H., M.W. Griffiths & J.N. Stanley (2001). Biological Control of water Hyacinth 2. ACIAR 
3.Waterhouse, D.F. 1994. Biological Control of Weeds: South East Asian Prospect. ACIAR. 
Oleh: Prof. Dr. Dantje T. Sembel

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin