HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

28 Januari 2008

Tidak ada lagi Jenderal Besar di Indonesia
SBY Instruksikan Tujuh Hari Berkabung

 
Satu-satunya putra Indo-nesia dengan pangkat ‘jen-deral besar’ yang masih hi-dup, HM Soeharto, akhirnya tutup usia di RSPP, Pukul 13.10 WIB, Minggu (27/01) kemarin. Kepergian presi-den ke-2 RI itu, disambut duka-cita oleh negara dan sebagian besar rakyat Indo-nesia. Presiden Susilo Bam-bang Yudhoyono (SBY) ma-lah telah menginstruksikan perkabungan nasional sela-ma tujuh hari (28 Januari hingga 2 Februari). 

Selama tujuh hari itu, ke-pala negara memerintahkan agar kantor pemerintahan dan kantor perwakilan RI di luar negeri, mengibarkan bendera setengah tiang. “Selama pengibaran bendera setengah tiang itu dinyatakan sebagai hari berkabung nasio-nal,” kata Mensesneg Hatta Rajasa dalam jumpa pers, yang berisi pernyataan peme-rintah tentang meninggalnya mantan Presiden Soeharto di Kantor Sesneg, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Minggu (27/01). 
Keputusan Presiden SBY ini sendiri, sempat menuai tang-gapan miring sejumlah kala-ngan. Politisi PDIP, Permadi mengatakan, masa berkabung atas wafatnya Soeharto terla-lu lama. Dia mengatakan, ke-putusan itu merupakan do-main pemerintah karena itu ia tidak bisa menyatakan se-tuju atau tidak terhadap ke-putusan tersebut. “Saya pikir terlalu lama jika dilihat de-ngan dosa masa lalu Soeharto yang sampai saat ini masih pro dan kontra di kalangan masyarakat,” katanya. 
Tidak demikian dengan kalangan aktivis. Kelompok yang peduli terhadap nasib rakyat tidak setuju dengan ke-putusan tersebut. Adian, misal-nya, secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya. Aktivis Forum Kota ini beralasan, be-kas penguasa Orde Baru (Orba) itu statusnya bukan lagi pejabat. Jadi, seharusnya biasa-biasa saja, seperti orang biasa meninggal dunia. 
“Saya tidak setuju, selain pemborosan waktu, waktunya tidak tepat karena saat ini rakyat mengalami kesulitan pangan,” katanya. Ia meng-akui Soeharto punya jasa be-sar terhadap bangsa dan ne-gara ini, tapi jasa yang diper-buat, tidak setara dengan dosa masa lalunya. 
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) juga menolak Hari Berkabung Nasional (Har-bungnas) yang ditetapkan pemerintah. 
Penegasan tersebut disam-paikan Koordinator Kontras, Usman Hamid saat jumpa pers di Kantor Kontras, Ja-karta, Minggu (27/01). “Per-nyataan Presiden SBY soal hari berkabung nasional itu menunjukkan kalau dia telah kehilangan moral politik. Ka-renanya kami menolak ada-nya pengibaran bendera se-tengah tiang,” terangnya. 
Lebih lanjut Usman menga-takan, walau sudah wafat bu-kan berarti semua kasus hu-kum Soeharto bisa dilupakan. “Pada prisisipnya keadilan ha-rus ditegakkan, kewajiban untuk menghukum pelaku dan kewajiban para korban untuk dipulihkan. Jadi kasus-nya tidak boleh diputihkan.” 
Hadir dalam jumpa pers tersebut beberapa korban dari ganasnya Orde Baru seperti korban dari tragedi ’65, Tan-jung Priok, Talangsari, Lam-pung dan Trisaksi. Kematian jenderal besar itu, menurut Usman harus dijadikan mo-men untuk menyelesaikan persoalan secara cepat. “Kita berbicara bukan karena dendam, karena bangsa kita bukan bangsa pendendam. Kita ingin hukum ditegakkan dan kalau bicara dimaafkan, dimaafkan apanya. Sebab, selama ini Soeharto belum pernah dinyatakan bersalah oleh hukum.” 
Sementara dari keluarga Soeharto lewat Mbak Tutut meminta, agar semua kesa-lahan Soeharto dimaafkan. “Kami meminta agar rakyat Indonesia memfaatkan segala kesalahan bapak,” kata Mbak Tutut yang sesekali menangis dan menyeka air matanya. Ia mengharapkan agar ayahnya diampuni dan diterima Allah SWT. “Kami mohon dimaaf-kan semua kesalahan bapak. Semoga mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah,” kata Mbak Tutut lagi.
Dia juga menyatakan, pihak keluarga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah men-doakan dan menjenguk ayah-nya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).”Kami mo-hon maaf bila dalam sakit-nya, tidak semua orang dapat menemui bapak dan kami tidak dapat melayani dengan baik,” katanya seraya juga menyampaikan terima kasih kepada pers atas pemberitaan selama ini. 
JENDERAL BESAR
Soeharto adalah satu-satu-nya jenderal besar bintang lima yang tersisa hingga ta-hun ini. Sebagaimana diketa-hui, selama ini Indonesia memiliki tiga orang jenderal besar bintang lima, yakni Jen-deral Soedirman, Jenderal AH Nasution dan terakhir adalah Jenderal Soeharto yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.
Jenderal Soedirman layak menyandang jenderal bintang lima, dikarenakan semangat juangnya yang tinggi dalam melawan penjajah Belanda. Bahkan di sela sakitnya, Pak Dirman tetap berjuang ken-dati harus ditandu anak buahnya.
Selain Soedirman, muncul nama Abdul Haris Nasution yang berhak menambah satu bintang dibahunya. Pak Nas — sapaan AH Nasution— men-jadi satu-satunya jenderal yang selamat dari peristiwa G 30 S PKI. Kejadian tersebut membuat Pak Nas terpukul karena harus kehilangan sang buah hati, Ade Irma Suryani Nasution.
Terakhir, penghargaan tertinggi TNI pun diberikan kepada Pak Harto. Penghar-gaan tersebut didapatnya ka-rena Pak Harto dinilai berjasa dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Selain itu juga, kendati masih menjadi kon-troversi, Pak Harto dinilai ber-jasa dalam menumpas PKI.
Kini, Pak Harto yang men-jadi satu-satunya jenderal bintang lima yang tersisa telah pergi menyusul para pendahulunya pada usia 87 tahun. Dengan wafatnya Pak Harto, habis sudah jenderal besar bintang lima yang ter-sisa di bumi pertiwi Indone-sia.(zal/dtc/sbr/sum)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin