|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Ekonomi dan Bisnis |
28 Januari 2008
|
|
Pertumbuhan Ekonomi
Pertanian Sulut 2008 Bakal Menurun
|
Pertumbuhan ekonomi di bidang pertanian di Sulut, kemungkinan akan mengalami penurunan di tahun 2008 ini. “Indikatornya, karena harga pupuk berbagai jenis, baik non subsidi maupun subsidi mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Dan hal ini sangat memberatkan petani,” demikian disampaikan pengusaha muda asal Langowan, Ir Novi Aruperes kepada harian ini, Minggu (27/01) kemarin.
Ia mencontohkan, pupuk non subsidi seperti KCL, yang masih sangat tergantung dari luar negeri, khususnya dari Rusia, harganya sangat mem-beratkan. Sekarang petani bukan hanya sulit mendapat-kannya, tapi kenaikannya ju-ga mencapai 100 persen. Se-bab harga sebelumnya Rp 125 ribu per sak, sekarang di ting-kat distributor Rp 375 ribu per sak. “Hal ini mungkin juga disebabkan karena pemerin-tah belum menanganinya,” tuturnya.
Sementara itu, pupuk sub-sidi dari pabrik belum mampu untuk memasok sesuai kebu-tuhan petani. Misalnya jenis SP36 yang oleh petani sangat dibutuhkan di musim tanam ini.
“Sekarang tidak ada lagi di gudang. Apa ini kesalahan pabrik atau distributor? Tapi menurut saya, ini karena dis-tributor yg sebetulnya sudah terlalu banyak jumlahnya, tapi ternyata tidak memiliki stok yang cukup. Ini memang perlu kerja sama dengan pemerintah.”
Ia menjelaskan, harga jenis pupuk ini dulunya hanya Rp 1550 per kg. Tapi sekarang sudah dijual Rp 2500 sampai Rp 3000. “Hal ini dikarenakan kesedihannya mengalami ke-kosongan. Petani mulai me-ngeluh dengan SP36. Biaya-nya justru sudah di atas sub-sidi. Ini jelas sangat berpenga-ruh bagi biaya produksi peta-ni.”
Pupuk lainnya, seperti mu-tiara dan hidrocomplex, tadi-nya harganya Rp 175 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 275.000, dan naik lagi menjadi Rp 375 ribu.
“Kami tidak tahu apa penye-babnya. Jadi kami harapkan pemerintah, pabrik dan distri-butor dapat memperhatikan masalah ini.”(jef)
|
|