HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

29 Januari 2008

Jasa Soeharto Diakui, Sejarawan pun Bingung


Presiden Susilo Bambang Yu-dhoyono atas nama pemerintah mengakui jasa besar Soeharto, baik dalam masa perjuangan mau pun selama memimpin Indonesia. Demikian disampai-kan Presiden SBY saat mem-berikan sambutan pada upa-cara pemakaman mantan Pre-siden Soeharto di Astana Giri-bangun Kabupaten Karang-anyar, Jawa Tengah, Senin (28/01) kemarin. 
Presiden menyebutkan, se-panjang hidup almarhum diab-dikan untuk kepentingan bang-sa dan negara. Pada tahun 1945-1949, Pak Harto berjuang mengusir penjajah untuk me-negakkan kembali kedaulatan bangsa dan negara yang saat itu masih berusia muda. Ke-mudian, pada tanggal 1 Maret 1949, almarhum juga 
memimpin Serangan Oemoem dan berhasil menduduki kem-bali Ibukota Yogyakarta. ta-hun 1962, almarhum juga bertindak sebagai Panglima Komando Mandala yang di-akui berhasil dari sisi di-plomasi dan militer.
Tiga tahun kemudian tepat-nya 1965, Pak Harto berhasil menyelamatkan bangsa dan negara sekaligus memulihkan keamanan dan ketertiban dari Gerakan 30 September. Sejak menjadi pemimpin Indonesia tanggal 27 Maret 1968, Pak Harto gigih melakukan pem-bangunan nasional dengan meletakkan konsep Trilogi Pembangunan yang mene-kankan pada stabilitas, per-tumbuhan dan pemerataan.
Dengan segala kejujuran dan hati yang bersih, kata presiden, pemerintah meng-akui banyak jasa yang dibe-rikan Pak Harto kepada bang-sa dan negara selama hidup. “Sebagai bangsa yang berjiwa besar, pemerintah mengucap-kan terima kasih dan peng-hargaan setinggi-tinggi ke-pada almarhum,” katanya. Sebagai manusia, Pak Harto tidak luput dari kekurangan dan kekhilafan karena sudah semestinya seluruh bangsa Indonesia memaafkan dan mendoakannya. “Selamat jalan Bapak Pembangunan,” kata Presiden.
Jenderal Besar (Purn) TNI Soeharto selama masa hidup-nya telah menerima 27 tanda penghormatan dari dalam negeri, 38 tanda penghor-matan dari luar negeri dan tujuh dari badan dunia. Se-mentara itu, mewakili ke-luarga Pak Harto, Siti Hardi-janti Indra Rukmana atau Mbak Tutut mengatakan, se-suai dengan keinginan almar-hum, Pak Harto memang ingin dimakamkan di samping istri tercinta Siti Hartinah (Ibu Tien) yang sebelumnya dima-kamkan di Astana Giribangun.
Tutut dengan suara parau mengenang Pak Harto sebagai ayah, eyang, buyut yang me-nyayangi anak, cucu dan cicitnya. Beliau, katanya, juga sebagai teman yang akrab sekaligus menjadi guru dan teladan bagi “Bapak ibu seka-lian, maafkan segala kesa-lahan almarhum. Selamat jalan bapak, doa kami selalu menyertaimu,” ucap Mbak Tutut sambil terisak ketika mengakhiri sambutan ke-luarga Pak Harto.
Seluruh keluarga besar Soeharto hadir dalam pema-kaman, yaitu Sigit Hardjo-judanto, Bambang Trihat-modjo, Siti Herijati Heriaty, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adining-sih, serta cucu dan cicit. 
SEJARAWAN
Soeharto pahlawan? Perlu melibatkan sejarawan untuk menilainya. Namun menarik pernyataan yang disampaikan sejarawan Universitas Indo-nesia (UI), Anhar Gonggong. Soeharto tetap menjadi tokoh kontroversial meski pun kini sudah meninggal. Bagaimana sebaiknya bangsa ini harus mengenang Soeharto?
‘’Ya sebagai bangsa yang ber-agama, tentunya secara priba-di tetap mengagumi perjua-ngan beliau dalam pembangun-an negara. Beliau melakukan pemerataan pembangunan. Tapi karena terlalu lamanya ber-kuasa, sebagai pejabat tentu banyak melakukan kekeliruan sehingga timbul gejolak pada 1998. Kemudian ada reformasi. Maka secara hukum tentu ha-rus diproses,’’ kata Gonggong. 
Bisakah Soeharto disebut pahlawan? ‘’Hahahaha... yaitu-lah kita serba salah. Kalau se-bagai pahlawan, mungkin dili-hat dari sisi perjuangannya menjelang kemerdekaan. Tapi kalau dari sisi moral, kan Soe-harto diragukan karena sejum-lah dugaan kasus pidana baik korupsi mau pun pelanggaran HAM. Barang kali, ia diper-daya orang sekelilingnya se-hingga martabatnya yang sebe-narnya bagus akhirnya jatuh. Apakah ia pahlawan? Saya jadi sulit menjawabnya. Saya nggak bisa komentar. Saya menghar-gai perjuangan beliau, tapi di sisi lain untuk menyetujui pendapat bahwa ia pahlawan, saya tersandera macam-macam hal.’’
Pelajaran sejarah seperti apa yang bisa dipetik dari kasus Soeharto ini?
‘’Sebaiknya warga masya-rakat, para calon intelektual mau merenung, melakukan kilas balik tentang Soeharto ini sehingga akan terbuka se-mua, misalnya soal Superse-mar yang masih menjadi mis-teri dan sebagainya. Dengan begitu akan terlihat kebenar-annya juga kesalahannya,’’ kata Gonggong dilansir detik.com. 
Jadi, sebaiknya bagaimana kita menuliskan Soeharto dalam sejarah? 
‘’Sebaiknya penulisan yang memihak pada kebenaran. Ditulis secara riil dan jujur keadaan Soeharto yang sebe-narnya. Apa kebaikannya, apa kelemahannya. Semua ditulis-kan dari dua sisi,’’ tandas-nya.(dtc/mdc/zal) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin