|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
30 Januari 2008
|
![]() |
Kematian mantan Presiden Soeharto adalah kesedihan sekaligus juga anugerah. Kesedihan karena kita ditinggalkan seorang Bapak Bangsa yang telah 32 tahun mewarnai kehidupan kita sebagai presiden pada masa Orde Baru.
Betapapun buruknya peri-laku mantan Presiden Soeharto pada masa berkuasanya, jasa-jasa Pak Harto tidak dapat di-abaikan sama sekali. Dan su-dah seharusnya sebagai ma-nusia yang telah meninggal, seyogyanya hanya kebaikan-kebaikannya yang perlu di-kenang.
Kematian Pak Harto juga me-rupakan anugerah bagi bangsa Indonesia. Mengingat Pak Har-to telah menjadi figur sentral selama 32 tahun berkuasa, se-cara otomatis Pak Harto telah menjadi duri dan daging dalam tubuh bangsa Indonesia. Tidak ada sektor, ataupun bidang ke-hidupan bangsa yang terlepas dari kaitannya dengan Soe-harto. Berbagai upaya masif dan total di berbagai bidang pernah dilakukan oleh Pak Harto dalam upaya ideologisasi guna memformat ulang default setting dari pola pandang dan pola pikir bangsa dalam me-lihat sejarah Indonesia dan pe-ran Orde Baru.
Anugerah berupa kematian Pak Harto harus dilihat sudut peluang untuk memutus rantai lingkaran setan yang membe-lenggu bangsa ini untuk maju dan bangkit dalam suasana, kesadaran dan lingkungan baru. Hal ini bertepatan pula dengan akan diperingatinya 100 tahun Kebangkitan Na-sional. Kepergian Soeharto dapat juga dijadikan momen-tum untuk merevitalisasi se-mangat Kebangkitan Nasional guna mendorong bangsa In-donesia semakin maju.
Menutup Episode Kelam
Optimisme ini paling tidak dilandasi oleh dua hal. Per-tama, kematian Pak Harto membuka peluang untuk me-nyatukan seluruh komponen bangsa yang sebelumnya ter-pecah dan cerai berai, akibat warisan politik otoriter Soe-harto semasa berkuasa.
Sebuah upaya rekonsiliasi nasional perlu digerakkan untuk menyatukan potensi-potensi bangsa yang selama ini tersimpan di beberapa kantong kebencian, yang di-bungkus hasrat kesumat me-nunggu peluang melampias-kan dendam. Potensi ini da-pat mulai dimunculkan dan dirangkul untuk besama-sama membangun bangsa.
Kematian Pak Harto di-harapkan akan menutup epi-sode kelam dari upaya peng-gelapan sejarah akibat ke-hendak berkuasa yang ber-lebihan dan tidak terkontrol.
Luka dalam dari tragedi bangsa akibat peristiwa Ges-tapu, misalnya, diharapkan dapat lebih disehatkan de-ngan berpulangnya aktor utama. Demikian pula halnya dengan tragedi-tragedi lain yang tercipta di kala Pak Har-to berkuasa seperti tragedi Tanjung Priok, Tragedi Timor Timur, Tragedi Aceh , Tragedi Semanggi I dan Semanggi II serta tragedi-tragedi lainnya.
Kedua, bangsa ini diharap-kan dapat menjadikan man-tan Presiden Soeharto sebagai contoh bagaimana sebuah ke-pemimpinan rezim yang ko-rup, otoriter harus berakhir dengan demikian tragis.
Bangsa ini dapat mengambil pelajaran penting dari akhir sebuah kepemimpinan rezim yang korup, otoriter seperti Pak Harto.
Masyarakat telah menyaksi-kan sendiri akhir hidup se-orang Soeharto dan berharap tidak akan ada minat untuk mengulangi episode kelabu dalam sejarah Indonesia ini.
Kita berharap bangsa ini ti-dak terjangkit lagi penyakit amnesia kolektif, baik yang terjadi secara alami ataupun sengaja direkayasa, yang ke-mudian membuatnya gam-pang lupa dan abai mengambil pelajaran serta mengulang kembali perilaku otoriter za-man Pak Harto berkuasa.
Bagaimanapun juga, Pak Harto adalah seorang pahla-wan yang telah berjasa dalam membangun Indonesia mo-dern. Di bawah kepemimpinan Pak Harto, pendapatan per ka-pita bangsa Indonesia mening-kat dari sekitar US$ 70 pada tahun 1967 menjadi US$ 2.500 pada tahun 1997.
Kebijakan industrialisasi telah menjadikan Indonesia salah satu negara industri baru yang disebut Bank Dunia sebagai NICs (Newly Industri-alized Countries) bersama ne-gara-negara seperti Singapu-ra, Malaysia Thailand, Taiwan. Sebagai salah satu contoh The Asian Miracle, industrialisasi Indonesia tidak menelantar-kan sektor pertanian.
Indonesia tercatat berhasil mencapai taraf swasembada pangan akibat kebijakan pe-merintah yang juga sangat mendukung sektor pertanian.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat meng-hargai pahlawannya. Sudah selayaknya kita tempatkan Soeharto di lubuk hati ter-dalam bangsa ini, sebagai Ba-pak Bangsa yang telah purna tugas menjalankan misinya.
Marilah kita kubur jasad Pak Harto beserta segala kenangan buruk perilaku otoriternya se-lama memimpin, dan marilah kita simpan kenangan indah dan manis saat beliau ber-kuasa sebagai bekal untuk bangkit dan menyongsong ma-sa depan Indonesia yang lebih baik.(habis)
Penulis Adalah Alumnus UGM, Pengajar FISIP Universitas Budi Luhur, Jakarta.
|
|