|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
31 Januari 2008
|
|
Islam tidak haram rayakan Imlek
Gus Dur: Saya Cina Tulen
|
Awal Februari nanti, Imlek akan digelar. Imlek dinilai se-bagai perayaan budaya dan bukan perayaan keagamaan. Sehingga tidak haram bagi ke-turunan Cina yang beragama Islam untuk turut merayakan Imlek.
“Imlek itu bukan perayaan hari raya, itu perayaan tani,” ungkap Ketua Dewan Syuro PKB, Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid dalam talk show “Living in Harmony the Chinese Heritage in Indonesia” di Mall Ciputra, Jalan S Parman, Ja-karta Barat, Rabu (30/01).
Budaya Cina sendiri, menu-rut Gus Dur banyak mempe-ngaruhi budaya Betawi. “Bu-daya Betawi itu campur aduk antara Arab, Melayu dan Tionghoa,” jelasnya. Gus Dur juga menyambut baik tum-buh dan berkembangnya ke-budayaan Cina di Indonesia sejak diizinkannya perayaan Imlek secara luas pada masa pemerintahannya. “Mari kita bawa Republik Indonesia ini kepada pluralitas,” tukas mantan Presiden RI ini.
Menariknya, dalam konteks ini, Gus Dur mengaku bahwa dirinya adalah keturunan Tionghoa. “Saya ini Cina tulen sebenarnya, tapi ya sudah nyampurlah dengan Arab dan India. Nenek moyang saya orang Tionghoa asli,” ungkap Gus Dur seraya menjelaskan, dirinya adalah turunan Putri Campa yang menjadi selir Raja Majapahit Brawijaya V. “Putri Campa itu lahir di Tionghoa, lalu dibawa ke Indonesia,” jelasnya.
Dari perkawinannya dengan Brawijaya V, Putri Campa ini mempunyai dua orang putra. Yang pertama adalah Tan Eng Hian yang mendirikan Kerajaan Demak dan akhirnya berganti nama jadi Raden Patah. “Dari sana keturunannya,” ujarnya. Sedangkan putra Putri Cam-pa yang satunya lagi dicerita-kan Gus Dur bernama Tan A Hok yang akhirnya menjadi seorang jenderal.(dtc/*)
|
|