|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
31 Januari 2008
|
|
Warouw dan Supit tentang pakar Jepang
Hotta: Air di Buyat Tercemar Zat Arsen
|
Pakar kesehatan dari Je-pang, Nobuyuki Hotta menga-takan, kondisi air di wilayah Buyat terindikasi sudah terce-mar zat arsen. Hal ini disam-paikan Hotta dalam small con-ference di Aula RS Pancaran Kasih Manado, Rabu (30/01) kemarin.
Dalam presentasinya, Hotta yang tercatat sebagai Direktur Rumah Sakit Sakuragaoka di Jepang membeberkan sejum-lah kasus pencemaran arse-nik. Pemaparannya menarik karena disertai foto dan gam-bar manusia yang menjadi korban pencemaran arsen.
Menurut Hotta, berdasarkan hasil penelitian yang dilaku-kannya, kasus pencemaran arsenik salah satunya dise-babkan adanya aktivitas per-tambangan. Dia kemudian menyebutkan sejumlah kasus seperti di Chia-Nan Plain (Tai-wan), Cordoba (Argentina), Antofagasta (Cili), Ronpibool (Thailand) dan Guizhou (Cina).
Lebih lanjut dikatakannya, selang 50 tahun terakhir ini kasus pencemaran arsenik pada manusia cukup banyak ditemukan, di antaranya di Torreon (Meksiko), Kuitun (Ci-na), West Bengal (India), Bang-ladesh dan Bekes (Hungaria). Dan pencemaran di negara-negara tersebut umumnya melalui air permukaan tanah yang digunakan untuk minum atau kebutuhan rumah tangga oleh penduduk setempat.
“Tahun 1988 sejumlah wila-yah di West Bengal, India ter-indikasi telah tercemar arsen. Dari 30 juta kasus yang dite-mukan, umumnya disebab-kan oleh air minum,” beber-nya.
Pencemaran seperti ini, kata Hotta, juga terindikasi di wila-yah Buyat yang merupakan eks lokasi tambang emas. In-dikasi tersebut terungkap me-nyusul ditemukannya sejum-lah warga yang mengidap penyakit melanosis in the mucous membrane on the gum.
“Tanda-tanda penyakit ini bisa dilihat di gusi, di mana penderita biasanya memiliki gusi yang kehitam-hitaman,” terang Hotta sambil menutup presentasinya.
Setelah sesi pemaparan pre-sentasi selesai, small confe-rence masuk pada sesi tanya jawab atau dialog. Baru saja sesi ini di buka, dua peserta masing-masing Prof W Wa-rouw dan dr B Supit lang-sung angkat bicara. Mereka langsung menentang presen-tasi yang dipaparkan Hotta.
Mereka menilai pernyataan Hotta soal adanya indikasi pencemaran zat arsen di Bu-yat tidak bisa dipertanggung- jawabkan karena tidak diser-tai dengan bukti-bukti oten-tik. Untuk itu, mereka memin-ta agar Hotta menunjukkan bukti otentik serta hasil pe-nelitian laboratorium terkait pernyataannya tersebut.
Menanggapi bantahan terse-but, Hotta langsung memberi-kan penjelasan. Tapi sayang, meski sudah dijelaskan, Wa-rouw dan Supit tetap angkat bicara dan menyatakan tidak sependapat. Malahan nada keduanya makin tinggi.
Melihat gelagat conference yang semakin memanas, se-orang peserta small conferen-ce tiba-tiba berdiri dan meng-kritisi sikap Warouw dan Su-pit. “Saya minta Pak Warouw dan Supit santun menyam-paikan pendapat. Yang muda-muda saja bisa tenang, tapi kenapa bapak-bapak yang senior malah ricuh seperti ini. Jangan kait-kaitkan small conference ini dengan kepenti-ngan pribadi karena ini dige-lar bertujuan untuk tujuan kemanusiaan,” tandas peser-ta tersebut.
Sayangnya, lantaran meli-hat suasana jadi ricuh, se-jumlah peserta memilih me-ninggalkan ruangan tempat digelarnya small conference tersebut.(rol)
|
|