|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Kota Bitung dan Sekitarnya |
31 Januari 2008
|
|
|
Sikapi kelangkaan semen di pasaran
Disidak Walikota dan Komisi C, PT Tonasa Akui ‘Permainan’ Spekulan
|
Dugaan penimbunan akibat menghilangnya semen dari pasaran, kian mendekati kebenaran. Ini terungkap saat Walikota Hanny Sondakh dan personel Komisi C Dekot Bitung melakukan inspeksi mendadak (sidak) di PT Tonasa, kompleks Pelabuhan Bitung, Rabu (30/01) kemarin.
Kepala Urusan Distribusi Se-men PT Tonasa, Anwar Lajibu, di hadapan walikota mengaku jika sebenarnya stok semen Tonasa yang masuk Bitung cukup tersedia. Tetapi diakui-nya ada ‘permainan’ spekulan atau distributor nakal yang se-ngaja melakukan penimbun-an. “Sekarang pak, sudah masuk semen 4.900 ton dan minggu ini juga akan masuk 500 ton. Jadi sebenarnya stok semen cukup tapi kami tidak tahu apa yang dilakukan para distributor. Kami memang cu-riga ada yang melakukan pe-nimbunan,” ungkap Anwar.
Sementara itu, legislator Bi-tung John Dumais, menyata-kan dengan adanya dugaan penimbunan, maka dalam waktu dekat ini pihaknya akan memanggil hearing pi-hak-pihak terkait untuk me-ngungkap dugaan tersebut. “Kalau memang terbukti, kami tidak segan-segan untuk me-minta Polres Bitung mengusut dan proses hukum terhadap para penimbun semen itu,” ujar Dumais yang didampingi Tilaar.
Sebelumnya, dalam sidak ter-sebut sempat menarik perha-tian ratusan sopir kendaraan pengangkut semen, yang terli-hat mangkal atau antri me-nunggu giliran mengangkut semen.
Dengan prihatin, Sondakh lantas melontarkan beberapa pertanyaan terhadap para so-pir yang ikut antrian panjang, yang kemudian disambut de-ngan jawaban yang di luar du-gaan. “Malah ada yang antrian sudah hampir tiga minggu,” tukas para sopir, yang kemu-dian mengungkapkan rasa ge-rah mereka terhadap adanya tindakan-tindakan penimbun-an semen para distributor.
Walikota pertama pilihan rak-yat Bitung ini yang mendengar hal itu, langsung angkat bicara. Malah Sondakh menyatakan pendistribusian semen harus diawasi secara ketat sehingga hal-hal yang tidak diinginkan menyangkut penimbunan tidak terjadi. “Ini sangat merugikan masyarakat luas, sehingga pe-ngawasan dan distribusi semen harus ditata dengan baik,” tukas Sondakh.(oan)
|
|