HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

01 Juli 2008

Megawati Lewati Popularitas SBY 


Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menu-runkan popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara signifikan. Bah-kan, untuk pertama kalinya dalam survei Indo Barometer, 
popularitas SBY disalib oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Direktur Ekse-kutif Indo Barometer M Qodari mengatakan, jika calon presiden (capres) diba-tasi pada 10 nama dan dilak-sanakan saat ini, dari 1.200 responden di 33 propinsi yang dipilih Indo Barometer, 30,4% di antaranya memilih Mega-wati Soekarnoputri sebagai presiden. 
“Sementara 20,7% respon-den memilih SBY sebagai presiden,” katanya saat kon-ferensi pers “SBY-Kalla terge-lincir BBM? Evaluasi Publik Satu Bulan Kenaikan Harga BBM dan Dampak Sosial Politiknya” di Jakarta kema-rin. Berkaca pada tiga survei Indo Barometer dalam 1 tahun terakhir, popularitas SBY fluktuatif. Survei Indo Barometer pada Mei 2007 menunjukkan popularitas SBY mencapai 35,3%. 
Pada survei Desember 2007, popularitas SBY naik hingga menjadi 38,1%.Namun,pada survei Juni 2008, popularitas SBY merosot hingga hanya 20,7%. “Ini popularitas SBY paling rendah,” kata M Qodari. Sementara itu, popularitas Mega terus menanjak. Survei-Indo Barometer pada Mei 2007, popularitas Mega men-capai 22,6%. Kemudian, saat survei Indo Barometer pada Desember 2007, popularitas Mega menjadi 27,4%. Angka itu lalu naik hingga mencapai 30,4% pada Juni 2008. 
Qodari mengatakan, survei ini dilakukan untuk melihat dampak kebijakan pemerin-tah menaikkan harga BBM. Survei mulai dilakukan 10 hari setelah kenaikan harga BBM, tepatnya 5 Juni 2008. “Setelah 10 hari, pengetahuan masyarakat tentang kenaikan harga BBM dan dampaknya sudah terasa,” katanya. 
Di sisi lain, Qodari meng-ungkapkan, dalam bentuk pertanyaan terbuka kepada 1.200 responden (capres tidak dibatasi), 26,1% memilih Megawati, 24,3% tidak tahu atau tidak menjawab dan 19,1% memilih SBY. Namun, Qodari belum dapat mempre-diksi satu tahun ke depan. Menurutnya, persaingan menjadi capres sangat ketat. “Sekarang yang (popularitas-nya) naik kan Bu Mega. Pak Wiranto sekarang naik, tapi dulu sempat turun, jadi fluk-tuatif dan ketat,”paparnya. Qodari mengungkapkan, dari 10 capres, ada dua calon yang bisa menjadi kuda hitam, yakni Sri Sultan Hamengku-buwono X yang popularitas-nya sebagai capres mencapai 8,8% dan Wiranto 9,3%. Selain popularitas SBY, survei Indo Barometer tersebut juga melihat kepuasan atas peme-rintahan SBY-Kalla. 
Dari 1.200 responden, keti-dakpuasan pada bidang eko-nomi paling tinggi, yakni 79,1%. Ada pun kepuasan pa-ling tinggi dari pemerintahan SBY-Kalla adalah pada masa-lah keamanan yang mencapai 49,2%. Dalam kesempatan yang sama, ekonom Universi-tas Indonesia Faisal Basri menilai survei popularitas calon presiden akan lebih baik jika dilakukan satu bulan setelah kenaikan harga BBM.
Menanggapi survei itu, Juru Bicara (Jubir) Kepresidenan Andi Mallarangeng menga-takan, Presiden SBY sudah sejak lama siap kehilangan popularitasnya sebagai pe-mimpin, terlebih setelah ke-putusannya menaikkan harga BBM. Dia menilai hasil survei Indo Barometer wajar. Andi menuturkan, kenaikan harga BBM pasti akan menurunkan popularitas pemimpin. 
“Tetapi apa yang diambil Presiden ini untuk menyela-matkan perekonomian bang-sa,” ujar Andi. Dia menegas-kan, Presiden SBY akan terus bekerja keras hingga akhir masa tugasnya. Menurut Andi, semakin banyak jajak penda-pat yang dilakukan tentang kinerja pemerintahan SBY, semakin baik pula Presiden melakukan penilaian terha-dap kinerjanya. “Karena, de-ngan begitu, kita bisa ambil rata-ratanya. Yang jelas Presi-den akan terus meningkatkan apa yang menjadi konsistensi Presiden untuk menjalankan pemerintahan,” tambahnya. 
Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Ahmad Mu-barok juga mengaku tidak terkejut dengan hasil survei tersebut. Namun,dia yakin popularitas SBY akan me-nanjak.(spi/*)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin