|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
02 Juli 2008
|
|
Refleksi
peringatan Hari Anti Narkoba Internasional
Penyalahgunaan
Narkoba, Bahaya Laten yang Kasusnya Terus
Meningkat(2)
Oleh: Jones Oroh
|
Genderang perang terhadap peredaran gelap narkoba telah lama ditabuh, meski demikian penyalahgunaannya tetap berlangsung sampai sekarang. Tak heran narkoba dijuluki sebagai bahaya laten yang sangat kuat. Mengapa?
Jumlah Kasus Terus Meningkat
Sesuai data yang dihimpun BNN jumlah kasus dan ter-sangka pelaku tindak kejahat-an narkoba yang terungkap dan jumlah penyalahguna narkoba yang terdeteksi, me-nunjukkan peningkatan tajam di seluruh wilayah Indonesia dari tahun ke tahun.
Dari estimasi jumlah pecan-du di Indonesia pada tahun 2004 yang lebih dari 3,2 juta pen-duduk, kasus narkotika yang berhasil diungkap sejak tahun 2004, sebanyak 3.874 naik hing-ga mencapai angka 11.380 pa-da tahun 2007. Untuk katego-ri Psikotropika tercatat 3.887 kasus pada tahun 2004, mele-jit hingga 9.289 kasus pada ta-hun 2007. Sedangkan Bahan Adiktif dari 648 kasus pada ta-hun 2004 meningkat menjadi 1.961 pada tahun 2007.
Dari data ini jumlah tersangka-nya pun otomatis ikut mening-kat, di mana pada tahun 2004 sebanyak 11.242 Warga Nega-ra Indonesia (WNI) ditambah 81 Warga Negara Asing (WNA), pada tahun 2007 menjadi 36.101 tersangka WNI dan 68 WNA. Para tersangka penyalah-guna narkoba yang ditangkap tersebut berlatar belakang ber-beda mulai dari pelajar SD hing-ga SLTA, mahasiswa, PNS, TNI/POLRI, Pekerja Swasta dan Wi-raswasta. Keselurahan kasus yang berhasil diungkap seba-nyak 22.630 dengan tersang-ka 36.169 orang.
Hal menarik sekaligus mem-prihatinkan yang didapat dari survei Program Pencegahan Penyalahgunaan dan Peredar-an Gelap Narkoba (P4GN) yang dilaksanakan oleh BNN dan Universitas Indonesia terha-dap pelajar dan mahasiswa di 33 propinsi pada tahun 2006 memperlihatkan bahwa rata-rata lima orang pelajar/maha-siswa di Indonesia adalah pe-makai/penyalahguna narkoba. Dan ternyata sesuai informasi yang disampaikan BNN, isi penjara di tanah air ini 75 per-sen penghuninya adalah pengguna narkoba.
Realita di Sulawesi Utara
Sulawesi Utara adalah daerah sa-saran peredaran yang empuk bagi gembong narkoba. Pernyataan meng-hebohkan tersebut diungkap-kan oleh sumber yang dekat de-ngan narkoba kepada penulis.
Alasannya adalah selain ke-adaan ekonomi dan pemba-ngunan di daerah ini yang se-mentara berkembang, ditun-jang pula dengan letak geogra-fis yang strategis untuk dijadi-kan lintasan maupun persing-gahan narkoba. Berdasarkan investigasi yang pernah penu-lis lakukan tahun 2007 lalu terungkap bahwa daerah ini dijadikan semacam penam-pung bagi pengguna yang te-lah adiksi (kecanduan).
Umumnya mereka berasal dari kota-kota besar yang ada di Pulau Jawa seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung. Seba-gian dari mereka sengaja me-milih daerah ini sebagai tem-pat “karantina”, apa-kah itu dilakukan sendiri atau oleh orangtua mereka.
Salah seorang peng-guna narkoba yang tidak mau diekspos namanya mengung-kapkan di Manado ada cukup banyak komunitas junkies yang tak kalah hebatnya dengan yang ada di Jakarta. “Gue ke sini (Manado) karena dikirim orangtua (ortu). Tuju-annya sich agar gue terbebas dari narkoba karena ortu ber-anggapan ketika berada di Manado bisa terlepas dari per-gaulan dengan teman-teman pemakai lainnya di Jakarta. Tapi mereka nggak tahu kalau di sini barang seperti itu gam-pang juga didapat” ungkap Roy (nama samaran), seorang pengguna narkoba.
Penelusuran yang dilaku-kan ke beberapa lokasi yang ada di Kota Manado memang bisa didapati sekelompok junkies yang kerap berkum-pul untuk melakukan akti-vitas pemakaian narkoba ber-sama-sama.(bersambung)
|
|