|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
03 Juli 2008
|
|
Sambut Woc 2009 di Sulawesi Utara
Olahan Perspektif Praktis Teo-ekologis(1)
Oleh: Max Edward Tontey
|
Tahun depan, yakni 2009 seluruh warga Sulawesi Utara akan disibukkan dengan penyelenggaraan salah satu perhelatan terbesar di sepanjang sejarah daerah ini dan juga merupakan ajang yang dinanti-nantikan oleh seluruh insan dunia. Tahun 2009 nanti, antusiasme lebih kurang enam miliar pasang mata akan tertuju di daerah paling utara Pulau Selebes ini. Menjadi kehormatan tertinggi bagi daerah kita, sebab oleh seluruh negara di dunia, daerah Sulawesi Utara dipercayakan menjadi ‘tuan dan nyonya rumah’ pelaksanaan event super fantastis yang menyandang sebutan World Ocean Conference, disingkat WOC.
Kepercayaan ini merupakan simbol kehormatan sekaligus dibebankan tanggung jawab moral yang besar bagi seluruh rakyat Sulut untuk dapat me-nyukseskan event bertaraf internasional dan intermulti-sosiokultural tersebut.
Penyelenggaran WOC bertu-juan untuk menyelamatkan lingkungan yang ada di muka Bumi, yang secara khusus di-spesifikasi ke dalam batasan ide tentang kelautan serta isu-isu yang menyertainya. Diten-tukanlah waktu yang tepat se-bagai durasi historis pelaksa-naan WOC, yaitu pada tanggal 11-15 Mei 2009.
Sehubungan dengan tema WOC yang bernas dengan isu kelautan, maka ditetapkanlah ikan Raja Laut Coelacanth de-ngan nama ilmiah ‘Latimeria Chalumnae’ sebagai maskot fa-vorit dan menjadi ‘pintu masuk’ awal rekognisi tentang poin-poin penting yang akan dibica-rakan dalam kegiatan ini.
Pengetahuan ilmiah seputar Coelecanth pada prinsipnya digunakan untuk mengkampa-nyekan keprihatinan kondisi biota laut, bukan hanya ikan tetapi juga karang, rumput laut dan plankton yang semakin terancam punah, dikarenakan iklim laut yang sudah terce-mar dan dirusak oleh tangan-tangan jahil manusia.
Demikianlah, signifikansi perhelatan WOC dipandang sangat urgent untuk menga-tasi dan mensolusi isu-isu yang dimaksud.
Demi menjamin pelaksanaan WOC berjalan lancar dan suk-ses, pemerintah Propinsi Sulut telah mencanangkan sejak awal tahun 2007 sebagai rally awal dari masa-masa persiap-an, sosialisasi dan pembenah-an infrasruktur serta penataan kembali lingkungan desa, ke-lurahan, kecamatan, kabupa-ten dan kota. Panitia Lokal pun dibentuk untuk memobilisasi rencana persiapan itu.
Pembenahan dan persiapan yang dimobilisasi oleh peme-rintah Sulut tidak hanya ter-batas pada sektor material saja, menlainkan juga pada sektor immaterial, seperti penyuluh-an dan pembinaan Tatakra-ma tentang cara penyambutan para peserta dan tamu dari se-luruh penjuru dunia yang akan bervisitasi untuk memenuhi invitasi WOC.
Hal ini dipandang sangat penting, mengingat kepribadi-an rakyat Sulut di mata inter-nasional terkenal dengan julukan The Smilling People.
Lembaga keagamaan juga menjadi salah satu sarana kerjasama pemerintah yang difungsikan untuk bersosia-lisasi dan membangun segi ke-bersamaan iman jemaat atau umat dalam meresponi penye-lenggaraan WOC yang dead-line-nya (tenggat waktu) se-makin dekat.
Event WOC yang dipandang urgensitasnya begitu tinggi dan mendesak, sehingga harus secepatnya diselengga-rakan, sesungguhnya merupa-kan realisasi dari sensitifitas umat manusia, yakni para pe-cinta lingkungan hidup untuk bergandengan tangan, menya-tukan pemikiran dan persepsi bagi keselamatan lingkungan yang ada di muka Bumi, da-lam hal ini laut.
Sensitifitas ini lahir dan tum-buh dari sikap keprihatinan mereka terhadap kondisi ke-lautan dunia yang kian mem-buruk dari hari ke hari. Para pemimpin negara-negara di dunia akhirnya turut terajak untuk menggumuli kepriha-tinan mereka.
Alhasil, dirancanglah event WOC ini dengan sebuah eks-pektasi besar, bahwa setelah penyelenggaraannya nanti, se-luruh warga dunia akan turut terpanggil untuk menyelamat-kan dan menjadikan laut se-bagai bagian yang tidak terpi-sahkan dari kehidupan ber-iman mereka kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.(bersambung)
|
|