|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Ekonomi dan Bisnis |
02 Juni 2008
|
|
Kenaikan harga pangan mendorong
inflasi
BI Langsung Naikan Suku Bunga
|
Meningkatnya harga minyak dan komoditi pangan dunia mendorong harga pangan di Sulut ikut naik, Ini diprediksi akan menyebabkan naiknya inflasi pada beberapa bulan kedepan, tukas Kepala Bank Indonesia (BI), Jeffry Kairupan akhir pekan lalu.
Dijelaskannya, untuk menahan tingginya tekanan inflasi, khususnya dari sisi permintaan (Aggregat Demand), Bank Indonesia (BI) wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo akan menaikan suku bunganya hingga menjadi 8,25 persen. Dalam pertemuan dengan sejumlah wartawan media cetak dan elektronik itu Kairupan menjelaskan, bahwa naiknya harga kebutuhan pangan dan minyak akan berdampak langsung pada fungsi intermidasi perbankan Sulut, sehingga BI melakukan perubahan suku bunga sebesar 0,25 persen dari 8.00 peersen menjadi 8,25 persen. Hal ini dianggapnya akan menolong menekan inflasi sehingga Perekonomian Sulut tidak terganggu.
Disamping BI juga akan terus memantau perkembangan kestabilan nilai rupiah di pasar uang, dengan melakukan intervensi secara efisien dan efektif, tukasnya.
Sementara akibat naiknya harga kebutuhan pokok, penyaluran kredit perbankan Loan to Deposit Ratio (LDR) menjadi lebih tinggi dibanding dengan penghimpunan dana masyarakat. NPL. Pertumbuhan kredit sebesar 33,49 atau Rp.162 miliar pertahun mendorong pula aset perbankan yang naik sekitar 20,23 persen (yoy) pada posisi April 2008 ini.
Sedangkan bila dilihat jenis penggunaanya, terjadi pertumbuhan yang tinggi pada kredit modal kerja sebesar 49,22 persen, diikuti kredit investasi sebesar 27,95 persen serta kredit komsumsi sebesar 24,02 persen. Namun bila dilihat pangsanya, kredit masih didominasi oleh kredit konsumsi sebesar 24,02 persen yang artinya mencerminkan perbaikan kualitas intermidasi perbankan semakin membaik, jelasKairupan. (wel)
|
|