|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Opini Redaksi dan Pembaca
|
02 Juni 2008
|
|
Perempuan Indonesia
dan Produktivitas di Era Modernisasi(2)
|
Perkembangan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut kita (human) untuk lebih percaya diri dan tanggap menghadapi berbagai permasalahan kehidupan. Terutama ketika kita diperhadapkan dengan usaha-usaha mencapai masa depan yang lebih cerah.
Oleh: Dra Joula S Kalangi MSi
DR Marie Elka Pangestu se-bagai Menteri Perdagangan, DR Sri Mulyani Indrwati, Men-teri Keuangan yang akhir-ak-hir ini menjadi perhatian pu-blik dalam mengatasi persoa-lan kenaikan BBM untuk me-ngatasi permasalahan pereko-nomian di Indonesia. Ini me-nandakan sumber daya ma-nusia Indonesia khususnya perempuan telah mampu me-nerobos anggapan masa lalu, yang sering mendiskrimina-sikan kaum perempuan.
Bahkan sebuah majalah nasional melansir sebuah judul “Bu Siti melawan Ame-rika”. Hal ini disebabkan oleh karena ada indikasi diborong-nya obat Tamiflu oleh negara-negara kaya yang tak memiliki kasus flu burung, menggores kan luka mendalam di hati Menteri Kesehatan, Siti Fadi-lah Supari melalui buku “Sa-atnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di balik virus flu burung”. Dalam buku setebal 182 halaman itu, sang menteri menguak praktik keculasan yang melibatkan organisasi in-ternasional dan negara-negara maju, khususnya masalah ke-sehatan.
Inikah profil perempuan In-donesia di era modernisasi ini? Memang benar, bahwa pe-rempuan Indonesia telah me-nerobos suatu strata kehidu-pan yang sangat penting di era modernisasi ini.
Suatu reset yang ditulis oleh Tumin bahwa selama mo-dernisasi berakibat pada pe-rubahan. Tumin melukiskan beberapa hal perubahan ke-tika masyarakat menuju pro-ses modernisasi.
1. Pembagian kerja semakin rumit, bersamaan dengan me-ningkatnya jumlah spesiali-sasi.
2. Status cenderung berda-sar atas prestasi sebagai peng-ganti status berdasarkan atas usul-usul.
3. Alat yang memadai untuk mengukur pelaksanaan pe-kerjaan dari orang yang terli-bat dalam produksi menjadi perhatian utama.
4. Peranan pekerjaan berge-ser dari kegiatan yang membe-rikan kepuasan hakiki ke peranan sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan.
5. Terjadinya pergeseran da-lam peluang hidup dalam ber-bagai strata sosial.
6. Terjadi pergeseran dalam distribusi gengsi sosial, meski-pun keuntungan menjadi masyarakat modern dibanding menjadi masyarakat tradisio-nal dalam hal ini masih men-jadi tanda tanya
7. Pergeseran masalah keku-asaan.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa persoalan modernisasi bukan semata-mata berhubu-ngan dengan adanya perkem-bangan industrialisasi, tetapi juga kepekaan melihat masa-lah-masalah kemanusiaan.
Secara historis istilah mo-dernisasi berkaitan erat de-ngan industrialisasi, tetapi ti-dak sama artinya. Modernisasi adalah istilah yang inklusif, karena modernisasi dapat ter-jadi terlepas dari industriali-sasi. Terbukti bahwa mode-rnisasi di negara barat di da-hului oleh komersialisasi dan industrialisasi, sedangkan di negara-negara non barat mo-dernisasi didahului oleh ko-mersialisasi dan birokrasi. Hal ini menunjukkan bahwa mo-dernisasi dapat terlepas dari in-dustrialisasi.
Kembali pada produktifitas perempuan Indonesia di era Modernisasi ini, Memasuki era milenium sebuah reset oleh Thoreau menulis: Kini banyak sekali orang yang hidup dalam keputusasaan, tetapi nampak-nya tak banyak yang memen-damnya secara diam-diam. Agaknya rakyat di seluruh du-nia tak lagi hidup dalam kepu-tusasaan; nafsu untuk menda-patkan makanan dan kemerde-kaan telah menjalar keseluruh penjuru dunia. Hal ini perem-puan Indonesia telah buktikan bahwa zaman telah berubah, perempuan Indonesia telah me-nerobos target modernisasi ya-ng semakin profesional, kredibel bahkan telah bergeser suatu ta-tanan sosial pada strata elit.(habis)
Penulis:
Dosen UKIT Tomohon, Pengamat Masalah Sosial Khususnya Perempuan
|
|