HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

02 Juni 2008

Perempuan Indonesia dan Produktivitas di Era Modernisasi(2)


Perkembangan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut kita (human) untuk lebih percaya diri dan tanggap menghadapi berbagai permasalahan kehidupan. Terutama ketika kita diperhadapkan dengan usaha-usaha mencapai masa depan yang lebih cerah.
Oleh: Dra Joula S Kalangi MSi
DR Marie Elka Pangestu se-bagai Menteri Perdagangan, DR Sri Mulyani Indrwati, Men-teri Keuangan yang akhir-ak-hir ini menjadi perhatian pu-blik dalam mengatasi persoa-lan kenaikan BBM untuk me-ngatasi permasalahan pereko-nomian di Indonesia. Ini me-nandakan sumber daya ma-nusia Indonesia khususnya perempuan telah mampu me-nerobos anggapan masa lalu, yang sering mendiskrimina-sikan kaum perempuan. 
Bahkan sebuah majalah nasional melansir sebuah judul “Bu Siti melawan Ame-rika”. Hal ini disebabkan oleh karena ada indikasi diborong-nya obat Tamiflu oleh negara-negara kaya yang tak memiliki kasus flu burung, menggores kan luka mendalam di hati Menteri Kesehatan, Siti Fadi-lah Supari melalui buku “Sa-atnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di balik virus flu burung”. Dalam buku setebal 182 halaman itu, sang menteri menguak praktik keculasan yang melibatkan organisasi in-ternasional dan negara-negara maju, khususnya masalah ke-sehatan. 
Inikah profil perempuan In-donesia di era modernisasi ini? Memang benar, bahwa pe-rempuan Indonesia telah me-nerobos suatu strata kehidu-pan yang sangat penting di era modernisasi ini. 
Suatu reset yang ditulis oleh Tumin bahwa selama mo-dernisasi berakibat pada pe-rubahan. Tumin melukiskan beberapa hal perubahan ke-tika masyarakat menuju pro-ses modernisasi.
1. Pembagian kerja semakin rumit, bersamaan dengan me-ningkatnya jumlah spesiali-sasi.
2. Status cenderung berda-sar atas prestasi sebagai peng-ganti status berdasarkan atas usul-usul.
3. Alat yang memadai untuk mengukur pelaksanaan pe-kerjaan dari orang yang terli-bat dalam produksi menjadi perhatian utama.
4. Peranan pekerjaan berge-ser dari kegiatan yang membe-rikan kepuasan hakiki ke peranan sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan.
5. Terjadinya pergeseran da-lam peluang hidup dalam ber-bagai strata sosial.
6. Terjadi pergeseran dalam distribusi gengsi sosial, meski-pun keuntungan menjadi masyarakat modern dibanding menjadi masyarakat tradisio-nal dalam hal ini masih men-jadi tanda tanya
7. Pergeseran masalah keku-asaan. 
Hal ini dapat disimpulkan bahwa persoalan modernisasi bukan semata-mata berhubu-ngan dengan adanya perkem-bangan industrialisasi, tetapi juga kepekaan melihat masa-lah-masalah kemanusiaan.
Secara historis istilah mo-dernisasi berkaitan erat de-ngan industrialisasi, tetapi ti-dak sama artinya. Modernisasi adalah istilah yang inklusif, karena modernisasi dapat ter-jadi terlepas dari industriali-sasi. Terbukti bahwa mode-rnisasi di negara barat di da-hului oleh komersialisasi dan industrialisasi, sedangkan di negara-negara non barat mo-dernisasi didahului oleh ko-mersialisasi dan birokrasi. Hal ini menunjukkan bahwa mo-dernisasi dapat terlepas dari in-dustrialisasi.
Kembali pada produktifitas perempuan Indonesia di era Modernisasi ini, Memasuki era milenium sebuah reset oleh Thoreau menulis: Kini banyak sekali orang yang hidup dalam keputusasaan, tetapi nampak-nya tak banyak yang memen-damnya secara diam-diam. Agaknya rakyat di seluruh du-nia tak lagi hidup dalam kepu-tusasaan; nafsu untuk menda-patkan makanan dan kemerde-kaan telah menjalar keseluruh penjuru dunia. Hal ini perem-puan Indonesia telah buktikan bahwa zaman telah berubah, perempuan Indonesia telah me-nerobos target modernisasi ya-ng semakin profesional, kredibel bahkan telah bergeser suatu ta-tanan sosial pada strata elit.(habis)

Penulis:
Dosen UKIT Tomohon, Pengamat Masalah Sosial Khususnya Perempuan

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin