HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

04 Juni 2008

Ganti rugi dinaikkan menjadi Rp 600.000/m2 
Pertamina Enggan Tanggapi Komisi VII


Pernyataan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Sutan Bathoegana yang menilai Pertamina telah melanggar undang-undang terkait peng-hentian distribusi BBM di Sulut selama enam jam lalu, ditanggapi dengan saling ‘lempar bola’ disertai keeng-ganan di kalangan pejabat Pertamina Manado untuk memberikan statemen. 

‘’Silakan tanya ke humas lang-sung,’’ tukas Kepala Pemasa-ran PT Pertamina Manado, Asep Wicaksono saat dikonfirmasi soal tudingan Bathoegana. Se-dangkan Humas Pertamina, Hanny Walelangi, juga meno-lak untuk menjawab dan me-minta tanggapan pimpinan langsung, “Yang berhak men-jawab adalah pimpinan,” sing-katnya saat dihubungi koran ini, kemarin (03/06). Sedang-kan Kepala Depot Pertamina Bitung, Slamet Sumarso keti-ka dihubungi, juga tidak be-rani memberikan statemen soal itu, “Saya tidak mengerti hukum dan itu bukan wewe-nang saya, lebih baik diam,” kelitnya.
PENAWARAN
Pada bagian lain, Pertamina dikabarkan telah menaikkan tawarannya kepada ahli waris terkait pembayaran ganti rugi lahan Depot Pertamina Bitung. Kalau sebelumnya mereka menawar Rp 158 ribu per me-ter persegi atas lahan seluas 4,5 hektar tersebut. Kini di-naikkan menjadi Rp 600 ribu per meter. Gubernur Sulut Drs SH Sarundajang mempertegas tawaran Pertamina tersebut ketika menemui ahli waris di Bitung, kemarin. 
“Kehadiran saya di sini ada-lah untuk membela bapak-ba-pak dan ibu-ibu. Makanya sa-ya memberanikan diri untuk datang. Saya ingin menyam-paikan bahwa setelah dila-kukan pertemuan dan rapat direksi bahkan perhitungan yang matang. Akhirnya Per-tamina menyetujui menaikkan harga sebesar empat kali lipat. Memang untuk negosiasi awal harga yang diajukan terlalu rendah. Dengan harga ini, ahli waris pasti tidak akan mau. Tetapi saat ini Pertamina su-dah menaikkan harga. Jadi wajar kalau saat ini, ahli waris dapat menurunkan harga yang diinginkan. Dan memang kemampuan Pertamina hanya sampai di situ,” papar Sarun-dajang panjang lebar di aula Pemkot Bitung, Selasa (03/06) kemarin dan tanpa sungkan-sungkan mengaku bahwa diri-nya rela menjadi perantara demi adanya kata sepakat dan kebaikan semua pihak.
Harga Rp 600 ribu per meter sendiri, masih jauh di bawah standar Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang berkisar Rp 916 ribu. Tapi ini dikatakan se-bagai harga negosiasi. Sebab, kata Sarundajang, Pertamina tidak akan mampu memba-yarnya kalau di atas itu. Ka-rena biaya tersebut jauh lebih besar ketimbang membuka depot baru. Apalagi, pada saat dibangun (depot), kondisinya bukan seperti sekarang, di mana areal itu berupa rawa. Jadi sangat wajar jika harga-nya seperti itu. “Ini perjuangan terakhir saya. Perlu diketahui saya dan aparat yang ada sa-ngat memperhatikan saudara. Tetapi yang lebih penting dari semua ini adalah stabilitas keamanan. Dengan demikian depot tidak boleh ditutup. Jika itu dilakukan saya akan ber-henti dan saya rela mati demi rakyat,” ujar Sarundajang me-ngundang simpati.
Untuk itu Sarundajang kem-bali mengatakan agar masalah ini dibicarakan kembali secara luwes. Sebab depot Bitung ini bukan objek bebas lagi. Sebab akan ada jutaan rakyat yang akan menuntut jika sampai terjadi masalah distribusi. “Bangunan di situ milik Per-tamina dan tanah adalah milik ahli waris. Tetapi minyak adalah milik rakyat. Jadi hanya kebetulan saja tanah itu ada depot,” tuturnya.
Sementara itu, penasihat hukum dari ahli waris Dotu Simon Tudus, Alfred Alexius Wawo mengatakan, sejauh ini pihaknya belum dapat memu-tuskan apakah akan mene-rima tawaran Pertamina atau tidak. “Untuk memutuskan-nya, kami akan mempertim-bangkannya dulu.’’ Alasannya, karena proses hukum masih berada di bawah PN Bitung. Di mana terkait hal ini, PN Bitung belum menyerahkan objek eksekusi kepada ahli waris. ‘’Karena itu saya mewakili Dotu Simon Tudus dengan sa-ngat menyesal belum dapat memutuskan. Karena per-soalan ini dalam pengawasan proses hukum,” ujarnya sera-ya menambahkan bahwa ahli waris tidak akan mengganggu kelancaran distribusi BBM.
Menariknya, di tengah upaya untuk jalan damai yang dila-kukan tersebut, sempat terjadi adu mulut antara ahli waris antara kubu Ny Teresia S La-ngelo dengan 14 ahli waris lainnya. Di sini Teresia me-ngaku habis ratusan juta hanya untuk memperjuangkan ke-pemilikan depot. Namun Sa-rundajang meminta agar se-luruh ahli waris dapat berda-mai. Sebab, bagaimana mung-kin akan membagi berkat jika dalam suasana bertikai. 
Meski dalam pertemuan ini belum menghasilkan kata se-pakat, tetapi sudah menun-jukkan titik terang. Karena para ahli waris mulai menun-jukkan niat baik untuk me-nyusun pertemuan kembali dengan gubernur.(zal/wel/eda)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin