HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Head Lines News

04 Juni 2008

Catatan jelang Euro 2008 Pesta Bola di Negara 
Kecil nan Makmur(1)


SWISS kini sibuk luar biasa. Bersama Austria, Swiss ber-tindak sebagai tuan rumah Piala Euro 2008 yang akan dimulai tanggal 7 Juni mendatang. Swiss memang belum banyak ber-bicara di kancah persepakbo-laan Eropa, apalagi dunia. Na-mun reputasinya sebagai salah satu negara yang sejahtera di dunia, tidak disangsikan lagi. 
Swiss bahkan terkenal seba-gai negara dengan kekuatan eko-nomi yang stabil. Nominal per kapita negara ini menempati urutan teratas ekonomi negara-
negara di Eropa. Negeri peng-hasil cokelat dan terkenal de-ngan produk arlojinya ini, ma-lah menjadi ’surga’ bagi peru-sahaan multinasional besar. Sebut saja UBS AG, Zurich Financial Services, Credit Suisse, Novartis, ABB dan The Swatch Group. Industri perbankan, tu-risme, farmasi dan kimia tumbuh pesat di Swiss. Begitu juga organisasi internasional, menjamur di Swiss. Mereka semua ikut memberi kontribusi bagi perekonomian Swiss. 
Perekonomian yang stabil di Swiss, sangat didukung sua-sana yang comfortable dan pe-layanan memuaskan dari pemerintahnya terhadap pu-blik, termasuk perusahaan-perusahaan asing. Jangankan perusahaan yang legal, yang ilegal pun merasakan aman menyimpan finansialnya di negeri tersebut. Tak heran jika bank-bank di Swiss menjadi ‘surga’ bagi para koruptor, ter-masuk dari Indonesia untuk menyimpan uang jarahannya. 
Saat mengunjungi Swiss lalu, penulis juga merasakan ke-nyamanan berada di negeri tersebut. Tak hanya securitas-nya yang ramah. Orang Swiss juga sangat friendly. Hal me-narik lainnya, di sejumlah pusat kota atau tempat kera-maian, mayoritas warga Swiss yang terlihat, sudah berumur (60 tahun ke atas). ‘’Itu menun-jukkan orang Swiss banyak yang berusia lanjut dan tetap sehat,’’ kata temanku waktu itu. 
Seorang nenek berambut pu-tih sambil menjinjing tongkat di dalam trem, dengan ramah menyapa penulis ketika mata kami bersua. Dia kelihatan enerjik. Sewaktu terlibat per-bincangan, si nenek tadi me-ngatakan dia baru kembali dari mendaki gunung. ‘’Wow….,’’ gumamku dalam hati. Ter-nyata tongkat yang dibawanya untuk keperluan mendaki, bu-kan untuk menopang kelim-pungan tubuhnya untuk ber-jalan. Menurut si oma tadi, mendaki gunung, adalah ke-giatan rutin yang dilaku-kannya dalam seminggu. 
Sementara itu, di sejumlah café di pelataran terbuka, tam-pak dari jendela trem sedang sejumlah warga bersenda gu-rau, yang umumnya orang yang tua-tua. Si teman saya pun nyeletuk lagi begitu me-lihat saya kembali bengong. ‘’Pemerintah Swiss saat ini, dengar-dengar dipusingkan dengan makin banyaknya te-naga tidak produktif di ma-syarakatnya (lansia). Mereka kini berencana untuk mengu-rangi tunjangan kesejahteraan bagi para lansia,’’ katanya men-coba menjelaskan, bahwa orang Swiss banyak yang ‘’berumur panjang’’. 
Saya pun dengan bersenda gurau mengatakan, kalau be-gitu Swiss perlu studi banding ke Indonesia, untuk bagai-mana mencegah menjamur-nya tenaga tidak produktif alias para lansia. Sebab di In-donesia, banyak (pejabat/pe-gawai dll) orang setelah pen-siun mengalami post power syndrome (PPS). Setelah PPS, kebanyakan mereka jadi ‘rajin’ berobat di dokter atau dirawat inap di rumah sakit. Dan ka-rena tunjangan kesehatannya minim, maka tidak sedikit lan-sia yang sudah ‘KO’ sebelum benar-benar menikmati hari tuanya yang tenang seperti para lansia di Swiss.
Eh, topiknya jadi bicara lan-sia yah? Mari kita kembali ke Euro. Menghadapi Piala Euro 2008 ini, Swiss tentunya tidak ingin reputasi negaranya yang tenteram dan makmur, jadi hancur. Salah satu yang dian-tisipasi adalah chaos antar supporter. Maklum, jika itu terjadi, reputasi Swiss akan ternoda sebagai negara yang ‘paling aman di dunia’. 
Swiss sendiri adalah negara kecil. Jumlah penduduknya berkisar 8 juta dengan area seluas 41,285 km². Meng-hadapi Euro 2008 ini, sekitar 5 juta orang akan masuk Swiss. Ini tentunya perlu pe-ngamanan ekstra. Beratnya, Swiss bukanlah negara de-ngan kekuatan angkatan ber-senjata yang besar. Kekuatan kepolisian terbesar yang di-kerahkan Swiss mengawal Euro ini ‘hanya’ 15.000 orang. Sedangkan jumlah angkatan bersenjatanya ‘hanya’ 13.000 anggota. Jumlah ini minim dibandingkan 5 juta orang yang harus dikawal. Tapi bagi Swiss, kekuatan ini meru-pakan mobilisasi kekuatan pengawalan terbesar mereka, bahkan melebihi apa yang me-reka lakukan saat Perang Du-nia II silam.
Namun karena dirasa minim, Swiss tak segan-segan mema-kai pengawal dari negara lain. Sekitar seribuan polisi dari Jerman dan Prancis, bakal di-datangkan untuk penga-manan. Meski pengawalnya minim, namun negara yang memiliki empat bahasa nasio-nal (Jerman, Prancis, Italia dan Romania) ini sudah ber-pengalaman menggelar iven internasional, termasuk Pa-lang Merah dan WTO. Oleh sebab itu, tidak ada masalah bagi Swiss untuk pengama-nan. Sukses penyelenggaraan diyakini bisa tercapai. Kini yang menjadi pertanyaan, ba-gaimana dengan kekuatan sepakbolanya? Sebagai tuan rumah, Swiss tentunya tidak ingin angkat kopor secepat-nya.(bersambung/**) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin