|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
04 Juni 2008
|
|
Catatan
jelang Euro 2008 Pesta Bola di Negara
Kecil nan Makmur(1)
|
SWISS kini sibuk luar biasa. Bersama Austria, Swiss ber-tindak sebagai tuan rumah Piala Euro 2008 yang akan dimulai tanggal 7 Juni mendatang. Swiss memang belum banyak ber-bicara di kancah persepakbo-laan Eropa, apalagi dunia. Na-mun reputasinya sebagai salah satu negara yang sejahtera di dunia, tidak disangsikan lagi.
Swiss bahkan terkenal seba-gai negara dengan kekuatan eko-nomi yang stabil. Nominal per kapita negara ini menempati urutan teratas ekonomi negara-
negara di Eropa. Negeri peng-hasil cokelat dan terkenal de-ngan produk arlojinya ini, ma-lah menjadi ’surga’ bagi peru-sahaan multinasional besar. Sebut saja UBS AG, Zurich Financial Services, Credit Suisse, Novartis, ABB dan The Swatch Group. Industri perbankan, tu-risme, farmasi dan kimia tumbuh pesat di Swiss. Begitu juga organisasi internasional, menjamur di Swiss. Mereka semua ikut memberi kontribusi bagi perekonomian Swiss.
Perekonomian yang stabil di Swiss, sangat didukung sua-sana yang comfortable dan pe-layanan memuaskan dari pemerintahnya terhadap pu-blik, termasuk perusahaan-perusahaan asing. Jangankan perusahaan yang legal, yang ilegal pun merasakan aman menyimpan finansialnya di negeri tersebut. Tak heran jika bank-bank di Swiss menjadi ‘surga’ bagi para koruptor, ter-masuk dari Indonesia untuk menyimpan uang jarahannya.
Saat mengunjungi Swiss lalu, penulis juga merasakan ke-nyamanan berada di negeri tersebut. Tak hanya securitas-nya yang ramah. Orang Swiss juga sangat friendly. Hal me-narik lainnya, di sejumlah pusat kota atau tempat kera-maian, mayoritas warga Swiss yang terlihat, sudah berumur (60 tahun ke atas). ‘’Itu menun-jukkan orang Swiss banyak yang berusia lanjut dan tetap sehat,’’ kata temanku waktu itu.
Seorang nenek berambut pu-tih sambil menjinjing tongkat di dalam trem, dengan ramah menyapa penulis ketika mata kami bersua. Dia kelihatan enerjik. Sewaktu terlibat per-bincangan, si nenek tadi me-ngatakan dia baru kembali dari mendaki gunung. ‘’Wow….,’’ gumamku dalam hati. Ter-nyata tongkat yang dibawanya untuk keperluan mendaki, bu-kan untuk menopang kelim-pungan tubuhnya untuk ber-jalan. Menurut si oma tadi, mendaki gunung, adalah ke-giatan rutin yang dilaku-kannya dalam seminggu.
Sementara itu, di sejumlah café di pelataran terbuka, tam-pak dari jendela trem sedang sejumlah warga bersenda gu-rau, yang umumnya orang yang tua-tua. Si teman saya pun nyeletuk lagi begitu me-lihat saya kembali bengong. ‘’Pemerintah Swiss saat ini, dengar-dengar dipusingkan dengan makin banyaknya te-naga tidak produktif di ma-syarakatnya (lansia). Mereka kini berencana untuk mengu-rangi tunjangan kesejahteraan bagi para lansia,’’ katanya men-coba menjelaskan, bahwa orang Swiss banyak yang ‘’berumur panjang’’.
Saya pun dengan bersenda gurau mengatakan, kalau be-gitu Swiss perlu studi banding ke Indonesia, untuk bagai-mana mencegah menjamur-nya tenaga tidak produktif alias para lansia. Sebab di In-donesia, banyak (pejabat/pe-gawai dll) orang setelah pen-siun mengalami post power syndrome (PPS). Setelah PPS, kebanyakan mereka jadi ‘rajin’ berobat di dokter atau dirawat inap di rumah sakit. Dan ka-rena tunjangan kesehatannya minim, maka tidak sedikit lan-sia yang sudah ‘KO’ sebelum benar-benar menikmati hari tuanya yang tenang seperti para lansia di Swiss.
Eh, topiknya jadi bicara lan-sia yah? Mari kita kembali ke Euro. Menghadapi Piala Euro 2008 ini, Swiss tentunya tidak ingin reputasi negaranya yang tenteram dan makmur, jadi hancur. Salah satu yang dian-tisipasi adalah chaos antar supporter. Maklum, jika itu terjadi, reputasi Swiss akan ternoda sebagai negara yang ‘paling aman di dunia’.
Swiss sendiri adalah negara kecil. Jumlah penduduknya berkisar 8 juta dengan area seluas 41,285 km². Meng-hadapi Euro 2008 ini, sekitar 5 juta orang akan masuk Swiss. Ini tentunya perlu pe-ngamanan ekstra. Beratnya, Swiss bukanlah negara de-ngan kekuatan angkatan ber-senjata yang besar. Kekuatan kepolisian terbesar yang di-kerahkan Swiss mengawal Euro ini ‘hanya’ 15.000 orang. Sedangkan jumlah angkatan bersenjatanya ‘hanya’ 13.000 anggota. Jumlah ini minim dibandingkan 5 juta orang yang harus dikawal. Tapi bagi Swiss, kekuatan ini meru-pakan mobilisasi kekuatan pengawalan terbesar mereka, bahkan melebihi apa yang me-reka lakukan saat Perang Du-nia II silam.
Namun karena dirasa minim, Swiss tak segan-segan mema-kai pengawal dari negara lain. Sekitar seribuan polisi dari Jerman dan Prancis, bakal di-datangkan untuk penga-manan. Meski pengawalnya minim, namun negara yang memiliki empat bahasa nasio-nal (Jerman, Prancis, Italia dan Romania) ini sudah ber-pengalaman menggelar iven internasional, termasuk Pa-lang Merah dan WTO. Oleh sebab itu, tidak ada masalah bagi Swiss untuk pengama-nan. Sukses penyelenggaraan diyakini bisa tercapai. Kini yang menjadi pertanyaan, ba-gaimana dengan kekuatan sepakbolanya? Sebagai tuan rumah, Swiss tentunya tidak ingin angkat kopor secepat-nya.(bersambung/**)
|
|