|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
05 Juni 2008
|
|
Resmi Capres Demokrat, Obama Rangkul Hillary
|
Barack Obama berhasil me-ngukir sejarah sebagai orang kulit hitam pertama di AS yang menjadi calon tunggal presi-den dukungan Partai Demo-krat. Sejarah tersebut dipasti-kan setelah Obama berhasil menang dalam pemilihan awal tingkat partai di Montana, Se-lasa malam waktu setempat (Rabu pagi WIB). “Amerika, ini-lah momen kita. Kini giliran ki-ta untuk membalikkan hala-man atas kebijakan-kebijakan masa lalu,” kata Obama yang disambut gegap gempita oleh para pendukungnya di Kota Saint Paul, Minnesota.
Di saat yang sama, pesaing terkuat Obama, Hillary Clinton, menang di pemilihan South Dakota. Namun kemenangan Hillary tersebut tak ada artinya lagi karena Obama sudah mengantungi dukungan 2.118 delegasi Partai Demokrat. Jumlah tersebut cukup untuk mengantar Obama sebagai calon tunggal dari Partai Demokrat untuk menantang John McCain dari Partai Repu-blik pada pemilihan umum (pe-milu) presiden November mendatang.
Dalam kesempatan itu, Oba-ma memuji rivalnya Hillary Clinton sebagai wanita pem-beri inspirasi. Obama juga mengajak partainya untuk bersatu melawan Republik.
“Negara dan partai kita lebih baik karena dia (Hillary). Dan saya adalah kandidat lebih baik, yang merasa terhormat memiliki kesempatan berkom-petisi dengan Hillary Rodham Clinton,” kata Obama.
Obama menyampaikan hal itu dalam orasi kemenangan-nya di hadapan 32 ribu pen-dukungnya di lapangan hoki Saint Paul, Minnessota, seper-ti dilansir dari Reuters, Rabu (04/06). “Kita sudah menun-jukkan perbedaan selama kurang lebih 16 bulan,” kata dia.
Pria keturunan Kenya ini juga mengajak seluruh elemen De-mokrat untuk bersatu menga-lahkan calon Republik, John McCain. Obama pun melontar-kan kritikan pada McCain, ter-utama tentang kebijakannya tentang Irak. Obama mengata-kan McCain tidak berbeda jauh dengan pendahulunya, George W Bush, yang mendukung pe-rang Irak. “Kita harus hati-hati keluar dari Irak, seperti kita ceroboh masuk ke sana. Tapi mulai meninggalkan Irak itu harus. Sudah waktunya Irak menentukan masa depannya sendiri,” kata dia.(spc/rtr)
|
|