|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Mimbar dan Keagamaan |
09 Juni 2008
|
|
Pemilu direncanakan 8 atau 9 April
Warga Sulut Sambut dengan Sukacita Iman
|
Adanya wacana dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang tanggal pencoblosan pemilu bergeser dari 5 April 2009 menjadi tanggal 8 atau 9 April 2009. Menurut KPU, jika dipertahankan 5 April yang jatuh pada hari Minggu, partisipasi pemilu tidak maksimal.
Warga Sulut sendiri khu-susnya umat Kristiani me-nyambut dengan sukacita iman rencana perubahan tanggal pemilu tersebut, meski pun belum ada kepas-tian penetapan tanggalnya. “Kami sangat mengharapkan agar pemilu tidak dilaksana-kan tanggal 5 April 2009 yang jatuh pada hari Minggu,” kata tokoh agama Kristiani Pdt Lamberti Mandagi MTeol, Pdt J Tilaar STh dan dari Komisi P/KB Sinode GMIM melalui Ketuanya Pnt Ir Roy Roring dan Sekretaris Pnt Ir Stefa Liow, Minggu (08/06).
Desakan elemen masyarakat termasuk P/KB Sinode GMIM agar pemilu tidak diadakan pada hari Minggu, 5 April 2009 ternyata membuahkan hasil. Komisi P/KB Sinode GMIM melalui Ketua Pnt Ir Roy Roring MSi dan Sekretaris Pnt Ir Stefanus Liow menyambut dengan sukacita iman ren-cana penundaan Pemilu 2009 yang tidak diadakan pada hari Minggu.
Menurut Roring dan Liow, ji-ka dipaksakan diadakan pada hari Minggu maka menun-jukkan tidak menghormati peribadatan umat Kristen dalam melaksanakan ibadah. Selain itu akan berdampak pada tingkat partisipasi masyarakat untuk memilih yang akan berkurang.
Beberapa waktu lalu Komisi P/KB GMIM dengan tegas menolak pelaksanaan pemilu pada hari Minggu seraya me-minta kepada pemerintah pu-sat dan DPR RI untuk men-desak KPU pusat untuk tidak menggelar pemilu pada hari Minggu di saat umat Kristiani beribadah.
Sementara itu Pdt Lamberty Mandagi menyatakan, kalau dilaksanakan pada hari Minggu jelas ini menunjukkan tidak menghormati periba-datan umat Kristiani. “Karena itulah tidak salah kalau ma-syarakat khususnya umat Kristiani meminta agar pemilu tidak dilaksanakan pada hari Minggu,” katanya.(lex)
|
|