|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
11 Juni 2008
|
|
Ahmadiyah di KK tetap aman jalankan ibadah
FPI Bolmong: Ahmadiyah Tidak Perlu Dibubarkan
|
Pentolan FPI di Jakarta dan daerah lain mendesak agar pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Tapi lain halnya dengan pendapat pengurus FPI Bolmong (Bolaang Mo-ngondow) Bersatu. Mereka mengatakan, Ahmadiyah ti-dak perlu dibubarkan. Malah Ahmadiyah diminta diakui sebagai agama. Demikian pendapat Wakil Ketua FPI Bol-mong Bersatu, Denny Moko-dompit ketika diwawancarai via telepon, tadi (10/06) ma-lam.
Menurut Mokodompit, pe-ngakuan agama untuk FPI harus dibedakan dengan Is-lam. Artinya, Ahmadiyah nan-tinya diakui sebagai agama di luar Islam. Dengan demikian, Ahmadiyah tidak boleh lagi menggunakan simbol-simbol dan instrumen Islam. Karena Islam di Indonesia jelas pe-domannya yakni Al-Quran, Hadits dan Fatwa MUI. Di sisi lain, dia juga menyatakan agar FPI jangan dibubarkan. Sebab tindakan FPI juga akibat im-bas penegakan aturan yang tidak tegas dari pemerintah.
Sementara itu, secara terpi-sah, terbitnya Surat Keputu-san Bersama (SKB) Tiga Men-teri yang dikeluarkan Senin (09/06) lalu, tampaknya tidak menyurutkan semangat Ja-maat Ahmadiyah, khususnya di Kotamobagu untuk menja-lankan ibadah, terutama menunaikan shalat lima wak-tu. Bahkan Muhammad Daud Daeng Patandra, selaku Imam Masjid Mubarakh di Motoboi Besar Kecamatan Kotamobagu Selatan (Kota Kotamobagu—KK), beranggapan cobaan yang tengah dialami adalah ujian Allah terhadap iman mereka, pada saat mereka baru saja merayakan 100 tahun Khilafat Ahmadiyah, yang jatuh 27 Mei 2008 lalu.
“Jemaat kami di sini ber-jumlah lebih dari 300 orang. Sampai sekarang, kami tetap menjalankan ibadah dengan aman dan tertib,” ungkapnya mengawali perbincangan dengan Komentar, kemarin, menjelang shalat maghrib. Ba-gaimana tanggapan terhadap SKB tiga menteri? “Memang beberapa media elektronik menganggap bahwa Ahma-diyah itu dibekukan. Sebenar-nya tidak. Sebab kami tetap menjalankan ibadah. Menteri Agama juga tidak bilang bah-wa aktivitas kami telah dibe-kukan,” jawabnya.
Muhammad Daud yang di-dampingi seorang jemaatnya Sukri Paputungan, kemudian menjelaskan, pihaknya tengah diuji. “Kalau mau tinggi dera-jatnya, harus lewat ujian. Jadi, apa yang terjadi saat ini ada-lah ujian terhadap keimanan kita. Kalau kita sabar meng-hadapi, tentu akan mendapat ganjaran dari Allah,” ujarnya lagi.
Ujian itu sendiri, lanjut dia, bertepatan ketika mereka sedang merayakan 100 tahun Khilafat Ahmadiyah. Sambil berdiri mendekati sebuah ka-lender yang di bagian atas ter-pampang foto beberapa orang bersurban yang disebutnya khalifah, sementara di bagian bawah penanggalan bertulis ‘Love for all hatred for none’, Muhammad Daud menjelas-kan pada 26 Mei 1908, Hadrad Mirza Gulam Ahmad wafat.
Dan pada 27 Mei, terpilihlah Khalifah pertama namanya Al Haj Khalifah Maulana Hakim Nurudin. “Karena sejak tang-gal 27 Mei ada khalifah, maka saat itulah Kilafat Ahmadiyah dimulai,” katanya. Dalam me-nyambut perayaan 100 tahun ini, lanjut dia, mereka mela-kukan berbagai bakti sosial. Di antaranya donor darah, donor mata hingga kunjungan ke panti asuhan. “Baru-baru ini kami menyerahkan nama 100 orang yang siap memberikan matanya kepada RS di Ma-nado, apabila mereka telah meninggal dunia,” kata Mu-hamad Daud.
Hal itu langsung diaminkan Sukri Paputungan, warga Motoboi Besar yang men-dampingi Muhammad Daud. Bahkan Sukri sendiri menga-ku telah turut mengisi formulir donor mata itu, bersama anak perempuannya yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA serta istrinya. “Saya sangat ikhlas memberikan mata saya apabila sudah meninggal nan-ti. Kalau memang masih bisa dipakai, ya dimanfaatkan sa-ja,” katanya.
Setelah berbincang dalam rumahnya yang berada persis di samping masjid, ia pun mengajak Komentar melihat-lihat kondisi dalam Masjid Mubarakh. Bahkan sempat mempersilakan untuk me-ngambil gambarnya bersama seorang jemaatnya yang biasa disapa Tete Tiwi.
Dalam bahasa Mongondow fasih, Tete Tiwi mengharapkan agar wartawan menulis yang baik tentang Ahmadiyah. “Kami na’a Islam bi. Paispa au’ poko pia (Kami ini Islam. Tulis yang bagus-bagus ya, red),” demikian ungkapan Tete Tiwi sambil tersenyum.
Bahkan beberapa saat kemu-dian pria tua yang diperkirakan sudah berusia di atas 60 tahun ini menawarkan untuk mengam-bil dan memberikan beberapa buku ke pada harian ini, namun karena waktu tidak memung-kinkan lagi, sebab sudah sore dan menjelang maghrib, niat itu tidak kesampaian.
Bapak tinggal di sini? “Bukan, tapi setiap saat saya selalu shalat di sini, Alhamdullilah sampai sekarang tetap aman,” jawabnya sambil menunjuk ke arah sajadah.(tus/*)
|
|