|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Kota Tomohon dan Sekitarnya |
16 Juni 2008
|
Ada yang menyerahkan usai Misa
Tak Ada Aksi Corat-Coret dan Pesta Miras
Imbauan Kepala Dinas pendidikan kota Tomohon, Ventje Daniel Goni, SH dan tokoh pemuda kota Tomohon, Fargo Tular ternyata direspon para siswa se-kota Tomohon. Sabtu (14/06) lalu, tak nampak adanya siswa yang melakukan aksi corat-coret, dan pesta minuman keras (miras) usai mengetahui hasil kelulusannya.
Dari pantauan harian ini di beberapa pusat-pusat perbelanjaan, nampak para siswa yang ditemui masih memakai seragam tanpa ada corat-coret. Juga tidak ditemukan adanya kelompok siswa yang mengkonsumsi miras secara bersama-sama sebagai bentuk ucapan syukur. Justru sebaliknya, ungkapan syukur atas kelulusan benar-benar diapresiasikan para siswa dengan hal-hal positif.
“Ini sesuai dengan harapan kami dari diknas. Pihak sekolah dan para siswa sangat memahami harapan kami. Ini sekaligus mempertegas citra kota Tomohon sebagai kota pendidikan,” aku Goni.
Senada diungkapkan Tular. “Ini pantas menjadi contoh bagi daerah-daerah lain. Bahwa para siswa pun bisa diajak memahami keprihatian orang tua mereka, di tengah himpitan beban ekonomi pasca kenaikan Bahan Bakar Minya (BBM) ini,” tandas Tular.
Sementara itu, di bagian lain penyerahan sampul kelulusan dilakukan secara beragam. Kebanyakan dan lazim dilakukan, hasil UN diserahkan pihak sekolah kepada orang tua siswa dalam sebuah pertemuan bersama.
Namun hal yang agak berbeda dilakukan di SMA Seminari Kakaskasen. Sampul hasil UN diserahkan kepada siswa, setelah menggelar perayaan Ekaristi (Misa) yang dipimpin langsung Kepala Sekolah SMA Seminari Kakaskasen Pastor Vecky Singal Pr.(imo)
YLKI Desak Disperindag Sidak Penjualan Miras
Menanggapi berita tewasnya dua mahasiswa di Manado, dan seorang gadis Tondano mengundang keprihatinan berbagai kalangan. Tak terkecuali Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), kota Tomohon.
Kepada harian ini, Minggu (15/06) kemarin, salah seorang pengurus YLKI Tomohon, Daniel Kobis Tular mengatakan, kasus yang terjadi di kota Manado dan Kabupaten Minahasa, merupakan hal yang harus dijadikan cermin untuk kota Tomohon. Artinya, perlu ada langkah-langkah antisipatif sebelum kasus yang serupa terjadi di kota Tomohon.
“Pemerintah dan masyarakat kota Tomohon harus memwaspadai hal ini. Jangan sampai kasus serupa terjadi di kota Tomohon,” ungkapnya.
Untuk itu, Kobis mengatakan pihaknya sangat mendesak dinas perindustrian dan perdagangan kota Tomohon untuk segera menindaklanjuti hal ini. “Kami minta agar diperindag kota Tomohon untuk turun ke lapangan melakukan sidak terhadap loaksi-lokasi penjualan produk miras. Itu supaya jika ditemukan ada produk yang kadaluarsa dan kadar alkoholnya sangat tinggi bisa langsung ditindaklanjuti. Prinsipnya, jangan tunggu sampai ada korban jiwa baru bertindak,” pintanya.
Kobis menghimbau kepada para pengusaha dan penjual miras, untuk mematuhi aturan yang berlaku mengenai kadar alkohol atau ijin penjualan yang dikeluarkan pemerintah kota. “Butuh peran serta yang baik dan koordinasi yang terus menerus antara pemerintah, para pengusaha dan penjual miras serta masyarakat kota Tomohon,” pintanya.(imo)
Paat: Lurah dan Hukum Tua Diimbau Jangan Abaikan Pajak
Kepala Dinas Pendapatan Daerah kota Tomohon, Drs L Paat menghimbau kepada para lurah dan hukum tua se-kota Tomohon untuk tidak mengabaikan tugas melunasi pajak di wilayahnya masing-masing. Hal ini perlu disimpaikan Paat, mengingat tingkat kesibukan menyambut TFF cukup tinggi.
Menurut Paat, kian mendekati pelaksanaan iven Tomohon Flower Festival (TFF), tingkat kesibukan para aparat kelurahan dan desa sangat tinggi. “Karena itu maka saya menghimbau kepada para lurah dan hukum tua untuk jangan sampai mengabaikan tugas melakukan penagihan pajak di wilayah kekuasaannya masing-masing,” pintanya.
Meski demikian, Paat sangat optimis di tengah kesibukan menyambut TFF, para lurah dan hukum tua tidak melupakan apalagi mengabaikan tuganya tersebut. “Buktinya sudah ada kelurahan yang pajaknya sudah mencapai 50 persen. Akan tetapi, imbauan ini penting agar jangan sampai dilupakan karena kesibukan yang dihadapi jelang TFF tersebut,” tukasnya.(imo)
Program bus sekolah dan jalur TFF
Sopir Angkot Ketakutan, Tukang Ojek Siap Raih Rejeki
Kepedulian Pemkot Tomohon untuk dunia pendidikan dengan memprogramkan bus sekolah gratis, serta kebijakan merubah jalur kendaraan terkait pelaksanaan TFF (Tomohon Flower Festival) yang berlangsung sepekan, ternyata membawa kepedihan dan ketakutan yang besar bagi para sopir angkutan kota Tomohon.
“Jujur jo, torang sopir-sopir angkutan kota takut kalau sampe nantinya program bus sekolah gratis, dan pengalihan jalur karena iven TFF tersebut diberlakukan. Soalnya hal itu pasti akan mengurangi penghasilan torang sopir-sopir,” keluh Jony, salah satu sopir angkot Jalur Terminal Beriman-Kinilow kepada harian ini akhir pekan lalu.
Menurutnya, justru penghasilan terbanyak diperoleh dari para siswa di kota Tomohon. Karena setiap harinya pagi dan siang para siswa selalu ke sekolah dengan menggunakan jasa angkot. “Bisa dibayangkan kalau nantinya penumpang cuma orang dewasa. Disamping akan macet, juga akan mengurangi omset, sementara setoran yang akan torang kase ke pemilik kendaraan tidak berkurang. Jujur saja semua sopir di sini so ketakutan jika program itu ada,” ujarnya.
Hal senada juga dikatakan Johny terkait pelaksanaan TFF. Meski mengaku sangat mendukung pelaksanaan iven nasional tesrebut, namun dirinya mengaku kalau para sopir angkot ketakutan dengan jalur alternatif yang diberlakukan dinas perhubungan kota Tomohon. Karena itu, dirinya meminta pihak dishub untuk mencari solusi terbaik agar penghasilan para sopir selama TFF tidak berkurang.
“Bisa dibayangkan itu berlangsung selama satu minggu. Kalau so begini pasti penghasilan menurun. Bisa-bisa torang sopir nda dapa gaji. ,” jelasnya.
Sementara itu, dalam percakapan dengan dengan sejumlah tukang ojek, mereka mengaku senang dengan adanya jalur alternatif tersebut. Pasalnya, mereka memprediksi akan meraih penghasilan lebih banyak dibanding di hari biasanya. “Kalau ada jalur itu so pasti orang lebih suka nae ojek. Soalnya, kalau nae angkot pasti macet, tapi kalau nae ojek nda akan macet. Jadi pasti banyak warga pilih nae ojek supaya cepat sampe, apalagi dia pe harga nda talalau jauh beda,” tukas Noldy, warga Kolongan yang kerap mangkal di pusat kota.(imo)
|
|