|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Kota Tomohon dan Sekitarnya |
18 Juni 2008
|
|
Tolak hargai marrygold Rp 500
pertangkai
Sekkot: Tak Ada Bunga yang Dijual Perorangan!
|
Menanggapi keresahan warga yang berbuntut pada isu bakal dijualnya bunga-bunga milik perorangan, ditanggapi Ketua Panitia TFF (Tomohon Flower Festival), Drs Jhony Mambu, SH, MSi. Mambu yang juga Sekretaris Kota (Sekkot) Tomohonmengingatkan kepada masyarakat yang memiliki tanaman bunga di pekarangannya, untuk tidak menjualnya secara perseorangan.
“Saya tegaskan, tidak ada bunga yang dijual secara perorangan. Kami mengharapkan dengan sangat, agar masyarakat yang memiliki bunga yang ditanamnya di pekarangan rumah tidak menjualnya secara perorangan,” tandas yang ditemui di Kantor Walikota, Selasa (17/06) kemarin.
Saat ini, kata Mambu, sudah ada mekanisme penyaluran dan penjualan bunga di kota Tomohon. Di mana penjualan terhadap bunga-bunga yang ada dilakukan secara berkelompok dan bukan perorangan. “Tapi karena yang perorangan belum ada wadah bersama, maka ke depan Pemkot akan memfasilitasinya agar ada wadah, yang mewadahi penjual-penjual yang bersifat perorangan,” ujar Mambu.
Ia menjelaskan, jika penjualan dilakukan secara perorangan maka itu akan menimbulkan harga yang bervarian, antara warga yang satu dengan warga yang lain. “Bisa saja ada harga yang ditetapkan melebihi dari harga normal di pasaran. Ini harus diantisipasi supaya tidak akan ada pembelian bunga dari luar,” paparnya.
Menariknya, Mambu dengan tegas menampik informasi yang beredar, bahwa setangkai Marrygold di kota Tomohon dijual dengan harga yang sangat fantastik, yakni senilai Rp 500 pertangkai. “Pemkot memang tidak menetapkan harga bunga. Tapi sangat tidak benar jika harga satu tangkai bunga Marrygold mencapai Rp 500 ribu. Itu terlalu berlebihan. Tapi sesuai kajian Pemkot, harga pertangkai Marrygold cuma sebesar Rp 50. Sekali lagi tidak pernah ditetapkan bahwa harga setangkai Marrygold mencapai Rp 500,” paparnya.
Mambu mengatakan, kalau sampai harga setangkai Marrygold mencapai Rp 500, maka akan banyak orang yang lebih memilih berprofesi sebagai petani bunga. “Kita lei moi berhenti jadi sekkot kong batanam bunga Marrygold. Bayangkan saja kalau jumlah Marrygold sebanyak 1 ha, penghasilan yang diperoleh mencapai miliaran rupiah,” tukasnya berkelakar, sambil mengingatkan warga untuk tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu seputar masalah harga bunga.(imo)
|
|