|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
20 Juni 2008
|
|
Membudayakan Gemarikan sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Bangsa(1)
Oleh: Daniel Heintje Ndahawali, S.Pi,M.Si
|
Dalam perspektif sejarah, upaya-upaya peningkatan konsumsi ikan sebenarnya telah sejak lama dilakukan oleh pemeritah. Sejak zaman perikanan masih tergabung dalam Departemen Pertanian, hingga sekarang mandiri menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan, beragam program telah digulirkan. Ada Program GEMA INSANI, GENAPKAN dan akhirnya GEMARIKAN (GERAKAN MEMASYARAKATKAN IKAN NASIONAL ) yang diluncurkan bersamaan dengan peresmian Pasar Ikan Higienis Pejompongan, medio tahun 2004. Tidak tanggung-tanggung untuk memberikan bobot penting dari Program GEMARIKAN Presiden Megawati Soekarno Putri secara langsung meluncurkan program tersebut.
Berdasarkan penelaahan, paling tidak ada tiga hal me-ngapa konsumsi ikan harus ditingkatkan, yaitu Pertama, faktor biologis, mengingat umumnya ikan mengandung protein yang dibutuhkan kese-hatan manusia. Juga, karena ikan mengandung omega-3 yang dapat membantu me-ningkatkan kecerdasan anak. Bangsa-bangsa yang cerdas umumnya memiliki konsumsi ikan per kapita yang relatif tinggi. Kedua, faktor ekonomi yakni agar permintaan terha-dap produk ikan meningkat. Dengan meningkatnya per-mintaan dapat merangsang meningkatnya penawaran, yang berarti makin tumbuh-nya usaha perikanan, terse-rapnya tenaga kerja, serta se-gudang multiplier effect lain-nya. Ketiga, faktor sosial buda-ya, yakni mempertahankan identitas bangsa kita sebagai bangsa bahari. Bagaimana pun konsumsi ikan merupa-kan bagian dari identitas bangsa kita. Namun, perta-nyaannya adalah mengapa tingkat konsumsi ikan kita masih rendah, dan bagaimana upaya peningkatannya? Pada-hal di balik wabah flu burung, sapi gila dan penyakit kuku dan mulut yang kini melanda, diharapkan ada sisi positif yang bisa diambil, yakni do-rongan terhadap permintaan ikan diperkirakan akan me-ningkat.
Menurut catatan dari Depar-temen Kelautan dan Perikan-an (2007), konsumsi ikan per kapita nasional hanya sekitar 25,03 kg/kap/th pada tahun 2006 atau meningkat sebesar 4,51% dari tahun 2005 sebe-sar 23,95 kg/kap/th. Namun demikian angka tersebut masih di bawah standar Food Agricutural Organization (FAO) sebesar 26 – 30 Kg/kap/th. Bandingkan tingkat konsumsi ikan pada beberapa negara maju lainnya, seperti Jepang (110 kg/kapita/tahun), Korea Selatan (85 kg/kapita/tahun), Malaysia (45 kg/kapita/ta-hun) dan Thailand (35 kg/ka-pita/tahun).
Mengapa konsumsi ikan perlu ditingkatkan?
Ada beberapa variabel yang ternyata menyebabkan masih rendahnya minat masyarakat kita untuk makan ikan. Perta-ma, adalah problem sosiologis. Ini terjadi pada masyarakat pesisir di mana kegiatan per-ikanan dominan, seperti di Pe-kalongan hingga akhir 1990-an. Di kalangan masyarakat pesisir, pola makan ternyata ada kaitannya dengan status sosial. Semakin sering orang makan daging (red meat) maka semakin tinggi pula status so-sialnya. Sebab itu, orang ber-lomba-lomba untuk mengon-sumsi daging hanya karena status sosial. Tidak peduli de-ngan tingginya kandungan kolesterol. Sebaliknya, orang berusaha mengurangi kon-sumsi ikan juga hanya karena malu dianggap sebagai orang berstatus sosial rendah. Hal itu karena memang harga ikan di daerah pesisir waktu itu sa-ngatlah murah. Sebagai con-toh, ikan teri, meski menjadi sumber kalsium, orang eng-gan mengonsumsinya karena persoalan gengsi (Dahuri, 2004). Kedua, problem ekono-mi, yakni rendahnya daya beli masyarakat. Ini umumnya ter-jadi pada masyarakat yang se-cara geografis tinggal di wila-yah pedalaman (up land) dan jauh dari laut. Harga ikan la-utnya relatif lebih tinggi. Bahkan bisa dua kali lipat dari Pekalongan. Dengan tingginya harga ikan, maka hanya orang berpenghasilan lebih tinggi yang lebih berpeluang sering mengonsumsi ikan segar. Se-bab itu, secara sosiologis pun fenomena di daerah ini berke-balikan dengan daerah pesisir. Justru orang yang sering me-ngonsumsi ikan yang akan memiliki status sosial tinggi. Lihatlah, restoran seafood saat ini jauh lebih bergengsi dari-pada restoran biasa. Namun, apa yang terjadi di daerah pe-dalaman, kini sudah mulai menular ke wilayah pesisir.
Kini telah berkembang pula persepsi bahwa makan ikan menjadi ciri orang berstatus sosial tinggi. Terbukti dengan maraknya rumah makan seafood di daerah ini dengan harga yang relatif mahal. Keti-ga, adalah pengaruh globalisa-si pola pangan.
Di kalangan ahli sosiologi internasional, fenomena “Mc Donaldization” sering dijadi-kan contoh betapa globalisasi gaya hidup telah terjadi. Feno-mena “Mc Donaldization” telah merangsang terjadinya kemi-ripan pola pangan antarne-gara.
Bagi masyarakat urban, ke-datangan ke Mc Donald atau restoran waralaba lainnya telah menciptakan status so-sial tersendiri.(bersambung)
|
|