|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
23 Juni 2008
|
|
Dicap pengkhianat besar di Belanda
Guus Hiddink Jadi ‘Tsar’ Baru Rusia
|
TAK ada pe-latih sepak-bola yang di-cintai di se-antero dunia melebihi Guus Hiddink. Dia jadi pahlawan dari Belanda, Korea Selatan, Australia dan kini Rusia. Tiba-tiba, ingatan se-bagian warga Rusia, terkenang kembali ke awal abad ke-20. Itulah saat terakhir mereka me-miliki seorang tsar, Nicholas II. Begitu Nikolay Alexandrovich Romanov, begitu nama lengkap Nicholas II meninggal pada 17 Juli, 90 tahun yang lalu, Rusia kehilangan kaisarnya.
Mereka baru mendapatkan-nya kembali Sabtu (21/06). Be-da dengan sebelumnya, tsar
Rusia ini bukan lahir di Mos-kow, Vladivostok atau Kazan. Dia berasal dari Varsseveld, kota kecil di Belanda. Na-manya Guus Hiddink. Lihat-lah apa yang terjadi di Mos-kow, Sabtu malam itu. Semua orang meneriakkan namanya. “Guus, Guus, Guus,” teriak mereka membelah udara ma-lam yang terasa lebih hangat. Presiden Rusia, Dmitry Med-vedev bahkan ikut memanas-kan udara malam dengan me-ngirim ucapan selamat.
Hiddink, 61 tahun, telah me-ngembalikan kebanggaan Rusia. Di tangannya, Rusia melaju ke babak knock-out sebuah kejuaraan bergengsi untuk pertama kali sejak pe-cahnya Uni Soviet. Ironisnya, dia menyingkirkan Belanda, tanah kelahirannya, tempat paspornya dikeluarkan.
Tak heran, Hiddink menda-pat dua gelar sekaligus sete-lah Rusia mengalahkan Be-landa 3-1 di Stadion St Jakob Park, Basel, Swiss, itu. Di Be-landa, dia dianggap pengkhia-nat. ‘The Greatest Dutch Traitor’, tulis media Belanda. Di Rusia, dia dijadikan pah-lawan. Sejatinya, Hiddink bukan hanya pahlawan di Rusia. Bergerak sedikit ke timur, tepatnya di Semenan-jung Korea, Hiddink juga di-anggap pahlawan. Itu karena jasanya meloloskan Korea Se-latan ke semifinal Piala Dunia 2002. Hiddink membawa Kor-sel mencatat kemenangan pertama sepanjang keikutser-taan di Piala Dunia. Dia mem-bawa Tim Ginseng itu maju ke semi final, menyingkirkan raksasa Eropa semisal Por-tugal, Italia dan Spanyol.
Atas jasanya itu, Hiddink menjadi orang asing pertama yang mendapatkan status warga negara kehormatan Korsel. Dia kini bisa terbang ke mana pun ke seluruh pen-juru dunia menggunakan maskapai Korean Airlines dan Asiana Airlines. Jika naik tak-si di wilayah Korsel, tak se-orang sopir taksi pun berani menagih bayaran. Di Jeju Island, sebuah kawasan wisa-ta menyerupai Bali, Hiddink memiliki sebuah villa. Gratis.
Istimewanya lagi, Stadion Piala Dunia di Gwangju, sejak itu berganti nama jadi Sta-dion Guus Hiddink. Bukan Stadion Cha Beum Keun, pe-main terbesar yang pernah la-hir di Korsel. Guuseum, se-buah museum yang didirikan kerabatnya di Varsseveld, kini jadi tempat tujuan wisata favorit warga Korsel.
Hiddink juga pahlawan di Australia. Dia sukses memba-wa Australia lolos ke putaran kedua Piala Dunia 2006 di Jer-man. Padahal, itulah penam-pilan perdana Australia dalam 32 tahun terakhir. Langkah Aus-tralia hanya dihentikan Italia, itupun lewat eksekusi penalti kontroversial yang sukses di-jalankan Francesco Totti.
Warga Australia begitu me-muja Hiddink. Saat Piala Du-nia 2006 berlangsung, sebuah surat kabar di Sydney ber-kampanye untuk memperta-hankan Hiddink di Negeri Kangguru itu. Mereka meng-ajukan proposal ke pemerin-tah agar memberlakukan ‘pajak Hiddink’ untuk mem-bayar gaji pelatih asal Be-landa itu. Dengan begitu, Hiddink diharapkan bisa membatalkan kontraknya menangani Rusia yang sudah ditandatangani pada 10 April 2006, dua bulan sebelum Pia-la Dunia berlangsung.
Hiddink betul-betul figur po-puler di Australia. Publik Aus-tralia lebih senang menyebut-nya ‘Aussie Guus’. Saat Piala Dunia 2006 berlangsung, slogan yang diusung Australia sangat memuja Hiddink. ‘No Guus, No Glory’, ‘Guus For P.M.’, ‘In Guus We Trust’. Para pendukung Socceroos, juluk-an tim nasional Australia, punya teriakan khusus; ‘Gooooooooos’.
Tapi, Hiddink terus melang-kah. Dia menerima kontrak 2,5 tahun dari Federasi Se-pakbola Rusia senilai US$2,4 juta setahun di luar bonus. Kontrak itu mereka sepakati diperpanjang hingga 2010, sampai seusai Piala Dunia di Afrika Selatan. Betulkah Hiddink seorang pengkhia-nat? “Saya berharap tak mengungkapkan kata-kata itu dalam pertemuan pers kemarin. Menurut saya, pengkhianat adalah kata yang sangat buruk,” ujar Hiddink yang sebelumnya menyata-kan akan senang dengan julukan ‘Pengkhianat Be-landa’ jika timnya menang.
Sepenuhnya Hiddink bukan pengkhianat. Dia hanya men-coba bersikap profesional. Se-orang profesional akan meng-abdi kepada pihak yang mem-berinya kepercayaan. Lagi pula, bukankah Hiddink per-nah memberi kebahagiaan juga untuk Belanda? Tepat 10 tahun yang lalu, dia melolos-kan Belanda ke semifinal Piala Dunia 1998 di Prancis. Belan-da yang kala itu diperkuat Marc Overmars, Phillip Cocu, Edgar Davids, Frank de Boer, Ronald de Boer, Patrick Klui-vert dan Dennis Bergkamp, hanya kalah adu penalti dari Brasil.(inc)
|
|