HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

23 Juni 2008

Rajin Berdoa, Tapi Korupsi Juga(3)

Oleh: Yustinus Sapto Hardjanto



Lee Kuan Yew, secara heroik memulai dari dirinya sendiri (dari atas) dan setelah puluhan tahun baru bisa membuat Singapura lumayan bersih. Republik Rakyat Cina telah mengirimkan 100-an koruptor ke akhirat dengan peti mati yang disediakan sang presiden, tapi belum juga bisa dikatakan berada dalam kondisi ideal. Kita bersama berharap bahwa iklim demokrasi dan niat pemerintah untuk mewujudkan ‘clean and good governance’ bisa perlahan membersihkan Indonesia dari kabut korupsi. Tapi dengan prasyarat bahwa seluruh rakyat harus turut mengawal kinerja demokrasi kita. Sebab (kembali meminjam istilah dari Parni Hadi) demokrasi bisa jadi berarti yang gede diemek-emek, yang kecil dikerasi (yang besar dielus-elus, yang kecil digencet) atau gede montok tak berisi (orangnya tinggi besar, tapi otaknya tak berisi).
Akhir kata, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa doa-doa kita tidak ada artinya dan juga tak hendak mengajak kita un-tuk mengurangi intensitas peribadatan saudara-saudari sebangsa dan setanah air Indonesia. Konon menurut be-rita, di kawasan Skandinavia, tepatnya di Finlandia sebuah negeri yang sumber daya alam-nya sangat tidak variatif tapi mempunyai pendapatan per kapita yang termasuk sebagai salah satu terbaik di dunia, tingkat kriminalitasnya hampir nol dan korupsinya juga men-dekati nihil. Kondisi ini bisa dikaitkan dengan sebagian penduduknya yang dikenal sangat religius, sehingga rumah-rumah ibadah tetap penuh meski pun salju turun amat lebat dan suhu mencapai minus 30 derajat Celcius.
Semangat religius ini meng-hasilkan spirit kolektif untuk hidup sederhana, tidak suka memupuk banyak kebutuhan dan tidak melirik barang-barang yang bukan miliknya. Spirit seperti inilah yang akhirnya menjadi hukum bisa menjadi kekuatan korektif kolusi, penyuapan, uang se-mir dan tindakan-tindakan krimi-nal lainnya. Hasilnya roda ekonomi berjalan dengan lancar dan mengalami per-tumbuhan sehingga negara yang sebenarnya bermodal pas-pasan ini mampu tumbuh menjadi negara kaya dan rak-yatnya sejahtera. Singkat kata, kita sebenarnya sudah punya modal pertama, yaitu masyara-kat religius atau agamis, kini saatnya tinggal kita melangkah untuk memupuk modal kedua yaitu mulailah malu untuk ko-rupsi, malu mengambil uang atau kekayaan masyarakat-rakyat-negara, uang atau kekayaan yang bukan merupakan hak kita. 
Kesempatan untuk menja-dikan negeri ini nir korupsi masih terbuka lebar untuk kita. Selamat berdoa dan ting-galkan korupsi mulai seka-rang juga.(habis)
Penulis, peneliti subkultur di Naladwipa Institut Samarinda, sementara bekerja di Yayasan Lestari Manado.

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin