|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Opini Redaksi dan Pembaca
|
23 Juni 2008
|
HASIL Ujian Nasional (UN) tingkat SMP akan diumumkan Senin (23/06) hari ini. Di Sulut, dibandingkan dengan tahun 2007 lalu penuh dengan kejutan. Sebagaimana bocoran yang diperoleh, ranking tiga besar untuk nilai tertinggi rata-rata per sekolah, dikuasai oleh SMP yang kurang terkenal. Tiga sekolah ini pun berasal dari luar Manado, yakni SMPN 6 Langowan, SMP Al Khaerat Kema dan SMPN 3 Wori.
Malah di posisi 6 besar juga, tidak ada nama SMP favorit dari Manado. Sebab di peringkat keempat malah dihuni oleh SMP Muhammadiyah 2 Manado disusul SMPN 3 Bolangitang Timur dan SMP Kristen Bellae. Sedangkan SMP Manado International School (MIS) Kolongan, berada di peringkat ke-7.
Ada apa dengan SMP-SMP di Sulut yang masuk kategori favorit?
Pihak sekolah bisa tetap saja berdalih bahwa mereka sudah bekerja keras. Terlepas dari kejutan-kejutan SMP nonfavorit di UN, solusinya pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan jangan terlalu mengkultuskan sekolah-sekolah unggulan. Terutama dalam membiayai anggaran pendidikan harus merata alias tidak pilih-pilih sekolah. Masih banyak sekolah di pinggiran yang butuh buku pelajaran, ruang belajar yang representatif, pemberian beasiswa serta memperhatikan kesejahteraan guru yang sampai saat ini masih perlu dinaikkan seiring kenaikan BBM.
Karena itu, ketidakadilan, ketimpangan, bahkan pengabaian hak-hak yang pantas untuk setiap pendidik maupun peserta didik harus dibuang jauh-jauh. Gara-gara mengejar angka UN, pendidikan terkesan bagaikan objek eksperimentasi keberhasilan guru dan siswa, bukan lagi sebuah pendidikan membentuk karakter, kompetisi yang sehat, kejujuran dan komitmen pada bangsa. Hak guru bersertifikasi untuk mendapatkan tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok sampai sekarang gaungnya belum bersuara.
Bagaimana pun masa depan bangsa ini tetap ditentukan oleh pendidikan. Setiap negara yang ingin maju harus merujuk kepada pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia. Upaya pembenahan harus terus menerus dilakukan karena tanpa eva-luasi atas kenyataan yang ada maka masa depan seorang ma-nusia bisa salah urus.
Pemerintah, yang selama ini merasa paling benar, seharusnya membuka tangan lebar-lebar dan bukannya semakin me-lambungkan mimpi bahwa kita sudah berjalan di jalan yang benar dalam membangun pendidikan nasional. Sejatinya, prinsip membenahi mutu pendidikan harus dilakukan sehingga tidak ada lagi didapati ada siswa yang tidak lulus. Ingat, peningkatan sumber daya manusia di era yang kompetitif ini sangat dibutuhkan se-hingga negara kita tidak tertinggal jauh dari negara lain.(**)
|
|