|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Mimbar dan Keagamaan |
26 Juni 2008
|
|
Agama dan Politik
Merupakan Wadah Panggilan
|
Agama dan politik merupakan wadah dan wilayah panggil-an atau pengabdian yang berbeda namun seharusnya harus bisa saling melengkapi. Di mana agama merupakan panggil-an hidup rohani, sedangkan politik lebih dalam tata hidup duniawi. Namun disayangkan, sering kali kedua bidang ini terlalu dipisahkan, di mana dianggap bahwa agama yang bersih sedangkan politik kotor.
“Padahal semua itu sangat tergantung pada oknum pelakunya,” tegas Pastor Fred Tawaluyan Pr, pastor ke-usukupan Manado kemarin. Menurut Tawaluyan lagi, agama bisa menjadi kotor kalau pelaku bermental kotor, sebaliknya politik menjadi suci dan bahkan menjadi berkat bagi semua orang kalau pe-lakunya memiliki mental yang bersih.
“Maka dari itu saya berpen-dapat semua tetap tergan-tung pada orangnya. Jabatan politik atau di bidang apapun jika dasarnya seseorang me-miliki perilaku yang suci maka saya yakin jika jabatan yang dipegangnya merupakan sebagian dari wujud pe-layanan untuk membahagia-kan dan mensejahterakan rakyatnya,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, tokoh agama dalam hal ini pemangku jabatan religius misalnya imam, pastor, pen-deta, bhikku disiapkan untuk menyebarkan agamanya, ber-dakwa serta mengajarkan tentang kebenaran agama dan menawarkan kebaikan dan kesucian. Begitu juga dengan seorang pejabat, ia juga harus bisa melakukan hal yang sama namun terkait dalam bi-dang tugasnya.
“Namun demikian kemudian kalau status dan jabatan keagamaan terbawa-bawa dalam tugas politik ini mem-bahayakan sebab umatnya bisa terkotak-kotak. Padahal semestinya tugas seorang tokoh agama dari agama mana pun minimal untuk mem-persatukan umatnya,” ujar-nya. Dalam hal ini perannya sebagai pendamping atau penasehat para politisi dirasa akan lebih baik dengan hal itu.(gra)
|
|