|
|
Alamat:
Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38,
Manado
Telp: (0431) 879799
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431)
879790 (Marketing)
|
|
![]() |
![]() |
|
Head
Lines News
|
07 September 2010
|
|
Usai Lebaran, SBY
Bahas Pemindahan Ibukota Jakarta |
Jakarta, KOMENTAR
Rencana pemindahan ibukota dari Jakarta yang sumpek,
bukan lagi sekadar wacana. Pasalnya, usai libur hari
raya Idul Fitri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) segera melakukan langkah riil. Yakni memanggil
semua menterinya, khusus membahas kerangka
perencanaan komprehensif dalam rangka menyusun
kebijakan perpindahan ibukota.
Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan
Otonomi Daerah, Velix Wanggai
mengatakan, dalam rapat besar Kabinet Indonesia
Bersatu Jilid II itu, semua dokumen yang telah
diselesaikan, termasuk kajian terhadap opsi-opsi
alternatif ibukota, akan dikerucutkan.
“Presiden berharap ada konsolidasi intens antara
kementerian dan lembaga untuk menyatukan rumusan
kajian soal perpindahan ibukota,” kata Velix, Senin
(06/09). Dari berbagai kajian, saat ini ada tiga
opsi pemindahan ibukota yang mengemuka.
Skenario pertama, adalah yang realistis: ibukota
tetap di Jakarta, namun harus menata, membenahi dan
memperbaiki berbagai persoalannya. Yang utama adalah
kemacetan yang makin akut. “Kalau ingin tetap
mempertahankan Jakarta sebagai ibukota sekaligus
pusat pemerintahan, maka solusinya adalah mengatasi
kemacetan Jakarta,” kata SBY saat buka puasa bersama
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Jakarta.
Skenario kedua adalah skenario moderat. Presiden
menawarkan agar pusat pemerintahan dipisahkan dari
ibukota negara. Artinya, Jakarta akan tetap
diletakkan sebagai ibukota negara karena faktor
historis, namun pusat pemerintahan akan digeser atau
dipindahkan ke lokasi baru.
Contoh kasus adalah Malaysia, yang memindahkan pusat
pemerintahannya dari Kuala Lumpur ke Putrajaya —
yang tak jauh jaraknya. Namun, seperti halnya
Malaysia, perlu waktu tak sebentar. Negeri Jiran
membutuhkan waktu lima hingga tujuh tahun untuk
membangun Putrajaya. Dana yang dihabiskan pun tak
main-main, sekitar Rp 80 triliun.
Sementara skenario ketiga adalah yang paling
radikal, tapi juga yang paling ideal. Dalam opsi
ini, ibukota negara benar-benar baru. Jakarta hanya
dijadikan sebagai pusat bisnis. “The real capital,
the real goverment center akan dipindahkan. Itu
seperti Canberra (Australia), Brasilia (Brasil),
Ankara (Turki) dan tempat-tempat yang lain,” kata
SBY.
Di tengah wacana itu, ada banyak calon ibukota atau
pusat pemerintahan Republik Indonesia yang diajukan.
Menurut Velix, salah satunya adalah Palangkaraya.
Ini menurut Tim Visi 2033 di bawah Andrinof
Chaniago, akademisi Universitas Indonesia. Ini
senada dengan pendapat mantan Presiden Megawati
Soekarnoputri, yang juga mengamini pendapat ayahnya,
Soekarno.
“Palangkaraya sangat bagus untuk dijadikan ibukota
dan sangat cocok,” kata Mega. Letaknya yang di
tengah, bebas bencana dan lahannya yang luas jadi
alasan. Sementara, politisi Akbar Tandjung lebih
memilih ‘yang dekat-dekat saja’ agar tak berbiaya
besar.
“Saya setuju dipindahkan, tapi tidak perlu jauh-jauh
dari Jakarta. Tidak usah keluar Pulau Jawa,” kata
Akbar Tandjung. Untuk kategori ini, dua kota
digadang-gadang jadi calon. Jonggol dan Karawang,
meski sejumlah ilmuwan menilainya bukan jawaban yang
solutif.
Namun, buru-buru Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian minta masyarakat tak spekulatif. Kata
dia, gagasan yang sedang berkembang saat ini baru
dimaksudkan untuk perpindahan pusat pemerintahan,
bukan lantas menomorduakan Jakarta yang kini menjadi
Ibukota RI. “Kalau ibukota tidak, tetap di Jakarta,”
kata Hatta Rajasa. “Kalau, rencana perpindahan pusat
pemerintahan 10 tahun lagi.”
Pemerintah, beber Hatta, juga belum menaksir kota
tertentu sebagai pusat pemerintahan. Ini baru
kajian. Meski baru di awang-awang tak ada salahnya
bersiap. Ketua Umum Partai Demokrat, Anas
Urbaningrum mengatakan, pemindahan ibukota
pemerintahan akan berimplikasi dengan dinamika
pembangunan gedung-gedung pemerintahan jika seluruh
pusat pemerintahan akan dipindahkan ke ibukota baru.
Kecuali jika nantinya diputuskan, kekuasaan
eksekutif dan legislatif akan dipisah di ibukota
yang berbeda.(vvn)
|
|