|
|
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Ekonomi dan Bisnis |
10 Mei 2008
|
|
Galakkan Pertanian, Solusi Atasi Krisis
|
Ancaman krisis ekonomi yang bakal mendera masyarakat Sulut, menyusul ditetapkannya kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, bukan menjadi ancaman yang berarti jika ada kiat khusus untuk mengatasinya. Demikian diungkapkan Sekretaris Daerah Pemprop Sulut, Drs Robby Mamuaja, baru-baru ini.
Menurutnya, masyarakat tetap akan survive dan mam-pu melewati badai krisis, de-ngan mengedepankan potensi pertanian. “Jangan diremeh-kan, bidang pertanian ini jus-tru merupakan solusi jitu da-lam mengatasi krisis. Karena tidak ada cara lain bagi ma-syarakat selain menempatkan pertanian sebagai prioritas,” tukasnya.
Di Sulut ini, lanjut Ma-muaja, ada banyak lahan ti-dur yang masih dapat digarap dan dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga sangat disayangkan, apabila peluang yang menjanjikan ini tak dapat ditangkap. “Di daerah kita ini masih ba-nyak la-han yang tidak di-garap, se-mentara revitali-sasi per-tanian yang kita lakukan telah me-nunjukkan keberhasilan yang cukup signifikan. Oleh karena itu, kondisi ini harusnya terus dipertahankan bahkan perlu ditingkatkan,” tukasnya.
Di sisi lain, kata Mamuaja mengatakan kendati diha-dang krisis, namun keta-hanan stok pangan yang ada di daerah ini tidak akan ter-pengaruh oleh kenaikan BBM. “Stok ketahanan pangan kita masih mencukupi hingga beberapa bulan ke depan. Dan untuk hal ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” tandasnya.
Ditambahkannya, masyara-kat Sulut dewasa ini, dalam hal pola makan, tidak sepe-nuhnya mengandalkan beras sebagai satu-satunya makan-an pokok. Sebab, dengan ada-nya diversifikasi makanan, masyarakat tidak tergantung pada beras. “Masyarakat kita sudah terbiasa dengan bera-gam makanan, seperti jagung, pisang maupun umbi-um-bian. Sehingga tidak sepenuh-nya tergantung pada beras,” katanya seraya menambah-kan bahwa hasil produksi pa-di di sejumlah daerah sentra beras cukup untuk memenuhi kebutuhan beras masyara-kat.(eda)
|
|