|
|
Alamat:
Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38,
Manado
Telp: (0431) 879799 (Hunting),
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431)
879790 (Marketing)
|
|
![]() |
![]() |
| Berita
Opini Redaksi dan Pembaca |
10 Maret 2010
|
|
Gereja Jangan Sampai
Menjadi ‘Zombie’ |
Pernahkan Anda menonton film tentang zombie (mayat
hidup)? Orang-orang yang sudah mati lalu hidup
kembali dan berjalan. Tentu pemandangan yang sangat
menyeramkan sekaligus menyedihkan. Mereka itu
terlihat seolah-olah hanya daging tanpa roh.
Berjalan tanpa pengharapan dan tujuan yang jelas.
Mereka tidak tahu arti kehidupan yang sebenarnya.
Dan mereka mati rasa.
Oleh: Jenie A Rintjap
Tetapi jangan heran, ada be-gitu banyak orang yang
me-ngaku dirinya Kristen berjalan dan hidup tanpa
pengharapan dan tujuan yang jelas. Mereka hanya
mengikuti ‘kedagingan-nya’ saja. Makanya tidak
he-ran, meskipun sudah berta-hun-tahun menjadi
Kristen, tiap minggu pergi gereja, tetapi jiwanya
tetap saja hampa dan kosong. Meskipun dari luar ia
selalu tersenyum menyembu-nyikan kegalauan dan
kekoso-ngan dirinya.
Segala kenikmatan dan ke-mewahan dunia tidak akan
mampu memuaskan jiwa yang lapar dan kosong. Tuhan
Yesus sendiri berkata, “Rohlah yang memberi hidup,
daging sama sekali tidak berguna.
Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah
roh dan hidup” (Yoh. 6:63). Manusia tanpa roh adalah
mati. Firman Tuhan itu adalah roh.
Jadi kalau kita jarang mem-baca atau mendengar
firman Tuhan bagaimana kita dapat memiliki ‘hidup’
yang Tuhan Yesus maksudkan? Karena tanpa firman
Tuhan mengisi hidup kita, maka kita akan mati secara
rohani.
Hanya membaca dan mende-ngarkan Firman Tuhan saja
tidak cukup. Anda dan saya harus menjadi pelaku
firman. Sama seperti iman tanpa per-buatan adalah
mati. Tanpa menjadi pelaku firman, kita pun akan
mati secara rohani.
Kalau kita memerhatikan fe-nomena yang terjadi di
jaman ini sangat menyeramkan dan menyedihkan. Tidak
sedikit gereja-gereja yang lebih me-merhatikan dan
mengutama-kan pembangunan dan mere-novasi gedung
gereja dari pada pembangunan dan perbaikan karakter
dan mental keroha-nian jiwa-jiwa yang ada di da-lam
gedung gereja dan sekitar-nya.
Makanya tidak heran, meski-pun gedung gerejanya
megah tapi orang-orang di dalamnya ada yang
mengalami kerapu-han dan kekosongan, sehingga begitu
diterpa masalah sedikit saja langsung ambruk karena
tidak memiliki kekokohan dan pengertian yang benar
tentang iman kepada Yesus Kristus. Belum lagi
orang-orang yang tinggal di sekitar gedung gereja
ada yang masih tidak bisa ma-kan sehari tiga kali,
ada yang anak-anaknya putus sekolah karena kurang
biaya, adanya terpaksa menjual diri karena butuh
uang, ada yang melaku-kan penipuan karena terdesak
berbagai kebutuhan dan ke-inginan.
Seandainya sebagian dana pembangunan dan renovasi
gedung disalurkan untuk membantu orang-orang yang
kurang mampu dan membu-tuhkan tentu nilainya akan
le-bih bermakna bukan?
Selain itu tidak jarang ada gembala atau pemimpin di
ge-reja yang lebih suka memeli-hara dan memerhatikan
‘dom-ba-domba’ yang sehat dan ge-muk saja.
Misalnya kalau pejabat dan orang kaya yang sakit,
pasti akan dibesuk dan didoakan, tetapi seandainya
salah satu jemaatnya yang miskin masuk penjara,
apakah akan dije-nguk juga atau kalau ada anak orang
miskin yang butuh biaya sekolah atau pengoba-tan
apakah akan dibantu?
Kita seringkali mengatakan Tuhan Yesus itu sangat
baik dan luar biasa, tetapi mengapa kita sangat
jarang mau meng-ikuti teladan-Nya? Tuhan Ye-sus
datang ke dunia untuk orang yang sakit, terhilang,
se-sat, dan berdosa. Yesus tidak pernah mencari muka
kepada pejabat, pemerintah atau orang-orang kaya,
namun Ia mau bergaul dengan siapa saja, bahkan Ia
sering bergaul justru dengan orang-orang yang
dianggap hina, berdosa, dan tidak layak bagi banyak
orang.
Daripada mengambil ikan dari akuarium orang lain,
se-baiknya gereja menjala manu-sia yang belum
terjangkau dan butuh keselamatan. Banyak jiwa yang
butuh Yesus di luar gedung gereja.
Kalau kita keluar pada ma-lam hari, di
pinggir-pinggir jalan, di tempat yang agak
remang-remang tidak sedikit ‘kupu-kupu malam’ yang
ber-keliaran, orang-orang yang melakukan berbagai
transak-si terselubung, pencinta sesa-ma jenis,
gelandangan, dan lain sebagainya yang membu-tuhkan
Yesus dalam hidup mereka.
Bagi Yesus, mereka itu sa-ngat berharga. Mereka itu
seperti batu mutiara yang ter-kena lumpur yang perlu
diber-sihkan dan digosok sehingga mereka akan
menja-di mutiara yang sangat indah. Yesus bu-tuh
orang-orang untuk men-jala dan menjangkau mereka
yang belum terjangkau. Mili-kilah hati yang penuh
belas kasihan seperti Yesus, bukan menghakimi.
Gereja adalah pribadi, bukan gedungnya. Satu
individu ada-lah satu bangsa di mata Tu-han. Dari
satu orang perem-puan Samaria, banyak orang dari
kotanya percaya dan di-selamatkan. Kita jangan
sam-pai mati rasa. Sudah saatnya gereja sebagai
tubuh Kristus bersatu untuk menyelamat-kan jiwa-jiwa
yang terhilang, tersesat, dan terlupakan.
Seandainya Yesus ada di samping Anda saat ini, apa
yang akan Dia lakukan untuk kota di mana Anda
tinggal saat ini? Apakah Yesus hanya be-tah tinggal
dalam kenyama-nan gedung gereja atau Ia akan
bergerak keluar menem-bos tembok batas kebiasaan
agamawi untuk menjangkau dan menyelamatkan
jiwa-jiwa, meskipun untuk itu Ia akan dicemooh,
dijauhi, dianggap kurang waras, difitnah, bah-kan
dianiaya?
(bersambung)
|
|