HANYA SATU UNTUK SEMUA

 

 
NEWS CATEGORIES

 

Alamat: Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38, Manado
Telp: (0431) 879799 Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431) 879790 (Marketing)

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

07 September 2010

Commentaren:
Haruskah Membela Harga Diri dengan Perang

 

Hampir dua bulan terakhir ini, Indonesia disibukkan dengan urusan luar negeri dengan Negara serumpun Malaysia. Malaysia dinilai mulai “mengancam” kedaulatan dan harga diri bangsa Indonesia. Bahkan dari perspektif kebanyakan warga Indonesia menilai, tak ada salahnya slogan Ganyang Malaysia diangkat dan dibangkitkan kembali untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki harga diri.
Bahkan tak sedikit juga para politisi, ormas dan masyarakat umum angkat bicara soal sikap pemimpin bangsa ini, mulai dengan rasa salut dan hormat hingga mencerca kebijakan politik yang ditempuh pemimpin Negara ini. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah, haruskah untuk mempertahankan harga diri bangsa kita dengan angkat senjata? Kalimat ini setidaknya harus dijawab secara komprehensif, jangan dengan ke-pala panas apalagi penuh emosi. Berkali-kali Presiden SBY dan ka-binetnya menegaskan, untuk menyelesaikan masalah dengan Malaysia, Indonesia harus menempuh jalur diplomatik yang tegas dan berwibawa. Hanya saja kepercayaan masyarakat Indonesia akan perjuangan diplomatik sepertinya sudah tipis. Berbagai kasus ‘kekalahan perjuangan diplomasi’ seperti Sipadan-Ligitan, dan Timor-Timur telah menanamkan bahwa jika menempuh jalur diplomatik, Indonesia pasti kalah telak.
Memang dengan adanya kasus antara Malaysia-Indonesia, sepertinya membangkitkan kembali semangat nasionalisme yang mulai luntur di kalangan warga masyarakat. Kejadian ini membuat kita kembali ke era 40-an, dan 60-an, di mana kita Bangsa Indonesia tidak mau dipermain-kan oleh Negara lain. Tetapi realitas kebangsaan kita sepertinya me-nuntut lain. Angkat senjata bukan satu-satunya jalan pemecahan ma-salah. Sebab jika itu terjadi, berapa saja korban jiwa yang akan terenggut hanya masalah harga diri.
Harga diri masih bisa diperjuangkan dengan cara diplomasi. Diplomasi elegan berwibawa dan berharga diri tentu tak akan mendustai kedaulatan NKRI. Jika perjuangan diplomasi tak membuahkan hasil tentunya masih ada cara lain di mana PBB melalui Mahkamah Inter-nasional turun tangan menyelesaikan konflik antar Negara. Jika jalan ini juga kalah, dan Indonesia merasa harga dirinya di injak-injak apa solusinya? Apakah harus perang?
Tentunya hal ini harus dibahas di tingkat DPR RI, DPD RI menyatu dalam MPR RI untuk memutuskan apakah Negara dalam keadaan darurat kemudian memberikan persetujuan kepada presiden untuk menyatakan perang. Tapi apakah hal itu semudah membalikkan telapak tangan? Indonesia tentunya cinta damai. Perjuangan diplomatik bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali jika ada satu pihak merasa dirugikan dan tak ada titik temu. Semoga masalah Malaysia-Indonesia diselesai-kan di meja perundingan bukan di medan perang. Semoga.(*)

 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin