|
|
Alamat:
Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38,
Manado
Telp: (0431) 879799
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431)
879790 (Marketing)
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Opini Redaksi dan Pembaca
|
06 September 2008
|
MENJADI seorang calon legislatif (caleg) di jaman ini merupakan sebuah tugas yang mahaberat. Selain wajib memiliki syarat adminis-trasi yang ketat, mereka juga harus memiliki integritas, kualitas dan popularitas di mata masyarakat. Jika tidak begitu, maka gugurlah sudah, karena parpol harus merevisi kembali dan tentunya tambah repot. Bicara kemampuan, mereka wajib memiliki kapasitas tentang masalah-masalah dari bidang yang akan digelutinya. Wawasan serta kemampuan komunikasi, baik lisan maupun tulisan adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Itu adalah kemampuan wajib bagi saudara-saudara yang ingin berpartisipasi mengabdikan diri untuk memperju-angkan hak-hak rakyat Sulut dalam Pilcaleg 2009 mendatang.
Idealisme juga menjadi salah satu syarat integral yang harus dimiliki seorang caleg. Idealisme yang dimaksud di sini yakni idealisme ten-tang mengerti apa yang boleh dan yang tidak boleh. Selain itu, para caleg dituntut harus memiliki kemauan untuk turun ke masyarakat, sebagaimana dijabarkan dalam semangat vox populi vox dei. Artinya, suara rakyat sangat menentukan, dan itu berlaku di semua partai politik. Nah, saat ini momentum mendaftar caleg bak euphoria disam-but sebagian masyarakat Sulut. Nyaris hampir semua golongan ikut mencalonkan diri. Menyangkut hal ini, tentunya indikator penilaian standar langsung tertuju pada kualitas mereka sesuai dengan apa yang diminta dalam persyaratan wajib. Dalam fase ini, selain konstitu-en dan masyarakat yang turut menentukan hasil akhirnya, apakah seorang caleg itu dipilih atau tidak, namun peran partai politik saat melakukan tahapan penjaringan tidak bisa dipandang sebelah mata. Parpol dituntut mampu melakukan seleksi dengan ketat, disertai sikap tegas. Bilamana dalam tahapan verifikasi parpol ditemukan ada ok-num caleg yang bermasalah hukum, serta masuk klasifikasi politisi busuk jangan sampai ikut didaftar ke KPU.
Berikutnya, parpol diharapkan ikut memperhatikan aspek meritokra-si atau kemampuan dan pengabdian. Boleh saja partai merekrut orang dekat seperti saudara atau tetangga, tapi tetap harus berpegang pada aspek meritokrasi. Sangat tidak masuk akal ketika seorang caleg itu diakomodasi sementara kualitas SDM yang bersangkutan berada di bawah standar. Bila ini terjadi pada periode-periode lalu, masih bisa dimengerti. Itu semua diakibatkan mekanisme penjaringan belum tegas dan lebih banyak pada pertimbangan kerabat dan saudara yang ujung-ujungnya demi kepentingan parpol yang dikedepankan. Namun saat ini, konsep-konsep seperti itu mulai ditinggalkan parpol-parpol yang memiliki visi terbuka.
Contoh-contoh di atas harus kita buang jauh-jauh demi terciptanya iklim politik yang positif di daerah kita. Niscaya, dengan mengabaikan faktor subjektif seperti itu, masyarakat Sulut ke depan nanti akan semakin terayomi dan dunia perpolitikan di daerah ini akan semakin berkembang menjadi propinsi yang modern dalam segala aspek.(*)
|
|