|
|
Alamat:
Kompleks Ruko Megamas, Blok IB No. 38,
Manado
Telp: (0431) 879799
Fax: (0431) 879795 (Redaksi), (0431)
879790 (Marketing)
|
|
![]() |
![]() |
|
Berita
Opini Redaksi dan Pembaca
|
07 September 2010
|
|
Surat Pembaca:
Harga Cengkih
Anjlok, Pemrop Sulut Hanya Cuek |
KAMI sebagai petani cengkih di daerah ini, tentu
sangat menye-salkan sikap Pemerintah Propinsi Sulut,
sebab sejak dua minggu lalu hingga kini, harga
cengkih di pasaran anjlok hingga di level Rp 46.000
per kilogram. Padahal, se-jak awal Pemrop Sulut
lewat ins-tansi teknis, dalam hal ini Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Sulut berkali-kali
memberikan peryataan dan jaminan di berba-gai
pemberitaan media massa, bahwa harga per kilogramnya
tidak akan turun dibawa Rp 50.000. Mengingat,
pabrikan ro-kok sangat membutuhkan pro-duksi cengkih
tahun ini, termasuk yang dari Propinsi Sulut. Nah,
se-karang mana komitmen dan janji-janji itu. Kini
para pedagang peng-umpul mulai ‘bergerilya’
masuk-ke-luar kampung untuk membeli deng-an
‘permainan’ harga mulai di kisa-ran Rp 45.000 hingga
Rp 46.500 per kilogram. Wow, kasihan kami ini petani
cengkih, padahal banyak ke-butuhan yang harus segera
ditang-gulangi, terutama untuk membayar para pekerja
atau pemetik dan ke-butuhan rumah tangga sehar-hari.
Untuk itu, lewat surat pembaca ini, kami meminta
pemerintah untuk te-tap komitmen dengan masalah
har-ga cengkih ini. Ada kesan, pemrop sengaja
melakukan pembiaran de-ngan anjloknya harga emas
cokelat ini. Perilaku para pedagang, teruta-ma
pemodal besar dan konco-kon-conya sepertinya mulai
melakukan permainan harga dan menekan para petani.
Bahkan, ada pedagang yang mu-lai menakut-nakuti para
petani, bah-wa pada bulan Oktober mendatang harganya
akan terus anjlok hingga di kisaran Rp 40.000 per
kilogram. Sekali lagi, kami minta Pemrop Su-lut
harus turun tangan dan jangan hanya bersikap bodoh.
Bila terus di-biarkan harganya anjlok, sudah jelas
pemerintah telah melakukan ‘main mata’ dengan para
pedagang. Akhirnya, petani-petani juga yang
dirugikan. Padahal, sejak awal su-dah diprediksi
bahwa tahun 2010, merupakan panen raya petani
cengkih di daerah ini sehingga harganya benar-benar
juga dapat berpihak kepada petani. Jadi, mana
tanggungjawab Pemrop Sulut selaku pengendali
pemerin-tahan, pembangunan dan per-ekonomian di
daerah? Apakah harga cengkih ini hanya dijadikan
kepentingan politik jelang Pemilu-kada gubernur
lalu? Ataukah me-mang, pemerintah daerah lewat
intansi teknis sengaja membiar-kan anjloknya harga
tersebut? Ja-wabannya dikembalikan saja pa-da
mereka. Dan, yang pasti ja-nganlah terus menyusahkan
para petani cengkih.
Terima kasih atas dimuatnya surat pembaca ini.
Pengirim: Nama dan alamat pada redaksi
|
|